Secangkir Teh Hangat

Feby membanting pintu rumah, bergegas keluar dengan mengumpat sejadinya. Suasana malam yang disertai gerimis tak menyurutkan langkah kakinya untuk meninggalkan rumah. Feby yang bertengkar dengan ibunya tak perduli dengan teriakan orang tuanya, ia malah mengumpat, “Dodol, bego memang gue pikirin.”

Hujan kian lebat, Feby memutuskan untuk berteduh di sebuah warung di ujung jalan. Dengan wajah yang masih masam, ia berdiri di emperan warung. Derasnya hujan dan malam yang dingin tak mampu meredakan kobaran api yang ada di dadanya.

Cukup lama ia berdiri sehingga tidak memperhatikan kalau pemilik warung terus memandanginya. “Duduk nak, hujannya masih lama berhenti,” tegur pemilik warung. Sambil menarik nafas Feby menjawab, “Ia pak, terima kasih.” Iapun duduk di bangku sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Tidak lama pemilik warung membawakan secangkir teh hangat dan pisang goreng, “Silahkan nak dinikmati, sambil menunggu hujan reda, gratis kok.” Sementara Feby masih kebingungan, pemilik warung lanjut bertanya, “Nama adik siapa? dan mau kemana?”

“Saya Feby pak,” Feby tidak melanjutkan jawabanya, ia meminum teh hangat buatan pemilik warung, kemudian dia memandangnya dengan seksama. “Kamu kenapa nak?” tanya pemilik warung kembali.

“Ah ngak apa-apa pak, saya cuman terharu saja dengan bapak, bapak begitu baik, padahal kita baru kenal.” “Hee..bapak sering melihat kamu melintasi jalan ini saat pergi ke sekolah diantar oleh orang tua kamu, cuman bapak tidak tau namamu,” balas pemilik warung sambil tersenyum.”

Feby merasa malu, karena dia acuh dengan lingkungan,“Bapak begitu perhatian sekali, seperti sekarang ini, saya tidak meminta teh, bapak langsung membuatkan saya teh, seakan bapak tau kalau saya lagi perlu teh hangat, sementara orang tua saya? malah marah dan melarang saya keluar malam, dengan alasan saya anak gadis tidak baik keluar larut malam.” Feby mulai menumpahkan unek-uneknya.

Pemilik warung hanya tersenyum dan berkata, “Nak, bapak baru sekali memberi teh hangat dan pisang goreng, sementara orang tua kamu?. Dari kamu dalam kandungan sampai seperti sekarang ini perjuangan mereka luar biasa, tidak sepadan jika dibandingkan dengan pemberian bapak malam ini.”

“Larangan orang tua kamu itu bukan untuk kepentingan mereka, namun untuk kebaikan diri kamu sendiri, ketika terjadi sesuatu dengan kamu, orang yang pertama menitikkan air mata bahkan bisa berhari-hari adalah orang tua kamu, bukan teman-teman kamu.”

Mata Feby mulai berkaca-kaca, ia ingat betul, bagaimana panik kedua orang tuanya, saat ia harus dilarikan ke UGD karena penyakit yang dideritanya kambuh saat menghadiri ulang tahun temannya enam bulan lalu. Begitu hujan reda, iapun pamitan kepada pemilik warung dan mengucapkan banyak terima kasih lalu bergegas pulang ke rumah, untuk memeluk kedua orang tuanya.

Tokoh cerita di atas hanya karangan penulis saja, mohon maaf jika ada kesamaan nama. Sukses menyertai Anda.

Iklan