Arsip

Archive for the ‘Flash Fiction’ Category

Bahagia Itu Kamu, Maya

22/04/2015 5 komentar

Pagi menyapaku dengan penuh hangat. Kicau burung bersimfoni dengan datangnya sang fajar. Perlahan kupejamkan mata dan kurentangkan tangan. Tenang. Sejuk. Itulah yang kurasa. “Selamat pagi sang Surya, pagi ini aku tidak memotretmu, aku tunggu saat engkau naik ke peraduan malam,” bisikku. Baca selanjutnya…

Iklan
Kategori:Flash Fiction Tag:,

Mimpi Mawar

08/10/2014 22 komentar

Anak itu berdiri di bawah lampu lalu lintas, sebut saja namanya Mawar. Gadis sebelas tahun dengan rambut kusam, begitu awas memperhatikan laju kendaraan. Sigap. Jeli, menunggu saat tepat kapan kendaraan itu berhenti. Kaki mungilnya mulai melangkah, menghampiri kendaraan dan menjajakan beberapa minuman kemasan. Baca selanjutnya…

Biru Yang Merindu

15/02/2014 13 komentar

001 Tunjung FB IMG_4322

Apakah aku egois? Tidakkah aku berlebihan? Biru tak bergeming, ia resah dengan keputusan. Semuanya terlihat begitu sederhana. Namun kesederhanaan telah membuat gumpalan air yang telah mengering di tepi penglihatan Biru. Mengaburkan. Dan saat rindu merajah, Biru terduduk, mendesah dengan senyum penuh luka.

Kategori:Flash Fiction Tag:, , ,

Diary Putih Abu-abu

06/02/2014 18 komentar

Masa depan bukanlah masa lalu atau pun masa kini. Keduanya hanyalah akan menjadi kenangan dari sebuah masa depan. Tapi keduanya juga berebut peran untuk membentuk masa depan itu sendiri. Masa lalu adalah cermin yang sesekali perlu kita lihat, untuk melangkah di masa kini dan masa depan (Dey). Baca selanjutnya…

Potret Cinta Sang Fotografer

13/11/2013 18 komentar

Angga, pemuda tampan penyuka dunia fotografi berdiri tegap di depan pintu kamar. “Angin… bisikkan pada mentari, pagi ini aku tidak ingin mengejarnya, Aku akan mengejar Kinanti, siluet hatiku,” ucap Angga sambil tersenyum. Baca selanjutnya…

Seteguk Harapan Di Usia Senja

25/03/2013 23 komentar

Dalam pandangan dan rasa hausnya yang sangat, ia duduk di sudut lorong yang jauh dari lalu lalang orang-orang pengais rejeki pagi itu. Lelaki tua itu meletakkan tas lusuhnya. Perlahan tangannya merogoh isi tas, mengeluarkan sebotol air putih dan sebuah gelas plastik.Sebelum meneguk segelas air, mulutnya berkomat kamit memanjatkan doa. Baca selanjutnya…