Diary Putih Abu-abu

Masa depan bukanlah masa lalu atau pun masa kini. Keduanya hanyalah akan menjadi kenangan dari sebuah masa depan. Tapi keduanya juga berebut peran untuk membentuk masa depan itu sendiri. Masa lalu adalah cermin yang sesekali perlu kita lihat, untuk melangkah di masa kini dan masa depan (Dey).

***

Pagi itu tak seperti biasanya. Langit begitu cerah, mentari tersenyum manis menyapa lorong-lorong kehidupan. Mengiringi langkah kaki seragam putih abu-abu menuju sekolah.

“Perhatian, perhatian, sekali lagi mohon perhatiannya teman-teman!” Aku berteriak lantang di depan kelas. “Untuk pelajaran Akuntansi, aku minta tidak ada anak yang membuat kegaduhan, semuanya tenang dan diam!” seruku lagi. Suasana kelas tenang seketika, tak seorangpun yang berani menentangku. Mereka enggan jika pulang sekolah nanti harus jalan kaki, karena ban sepedanya akan aku kempesi satu persatu.

“Bu Novi datang!” seru Deny yang mengintip lewat jendela. Aku kembali ke tempat duduk. Beberapa saat kemudian, seorang wanita mengenakan seragam safari masuk. Melangkah dengan anggun menuju meja guru. Rambut yang diikat rapi, kaca mata mungil membentengi mata indahnya, menambah pesona yang luar biasa. Menebar kekaguman di hati murid laki-laki, tak terkecuali aku.

“Selamat pagi siswa sekalian!” Sapa ibu Novi lembut sambil berdiri di depan kelas. “Selamat pagi bu…!” jawab anak-anak dengan penuh semangat. “Bagaimana kabar kalian hari ini? Sehat semua?” Tanya ibu guru Novi. “Sehat bu!” jawab kami.

Pelajaranpun dimulai. Materi Akuntansi yang sering membuat bebal otakku serasa begitu menyegarkan. Sesekali aku beradu pandang dengan ibu Novi, ia membalasku dengan senyum. “Ah…bu Novi, kamu memang wanita pilihanku.” Bisikku dalam hati.

Kringggggg….bel istirahat pertama berbunyi. Ibu guru Novi membereskan buku pelajaran serta mempersilahkan murid untuk istirahat ke luar kelas.

“Para siswa silakan istirahat di luar, dan kamu Budi! Silahkan duduk dulu, ada yang perlu ibu bicarakan denganmu!” perintah ibu Novi.

Aku tertegun, pikiranku menganalisa kesana-kemari sementara mataku masih menikmati kecantikan wajah ibu guru Novi.

“Ibu sudah membaca surat yang kamu tuliskan buat ibu, entah kapan kamu menyimpannya, tapi ibu baru membacanya tadi malam,” Deg, suara ibu Novi membekukan jantungku. Hatiku kacau, terasa mata berkunang-kunang dan lidah mendadak kelu. Ingin aku berlari meninggalkan ruang kelas, namun tidak ada kekuatan. Aku tertunduk berselimut malu.

“Ibu berterima kasih atas perhatianmu ke Ibu. Namun ibu akan tetap menjadi guru buatmu, bukan sebagai kekasih kamu.”

Aku masih tertunduk malu, kemudian ibu Novi bicara lagi,”Kamu masih muda, masih banyak hal yang bisa kamu lakukan. Semua ada saatnya” “Satu hal lagi, mulai besok ibu sudah tidak mengajar di sini, ibu harus pindah ke Surabaya, sekalian melanjutkan sekolah ibu di sana,” terang ibu guru Novi.

Perlahan aku mendongakkan kepala, memberanikan diri memandang ibu guru Novi. Ibu Novi tersenyum manis. Rasa tegangku sedikit berkurang.

“Budi, banyak guru mengatakan kalau kamu murid yang kadang tidak menuruti aturan. Tapi ibu yakin, kamu pasti bisa berubah. Maukah kamu mewujudkan harapan ibu?” Aku mengangguk perlahan.

Terima kasih ya, buktikanlah itu kepada semua guru dan teman-temanmu di sini. Buktikan kalau kamu adalah Budi yang bisa membanggakan sekolah ini. Sudah ya, sekarang kamu boleh istirahat, masih banyak pekerjaan yang menunggu ibu!”

“Maafkan saya ya bu!” Ujarku lirih, sedikit tertahan. Bu guru Novi tersenyum seraya berdiri. “Ibu pamit ya,” balasnya dengan lembut. Aku memandang kagum langkah ibu guru Novi. “Terima kasih bu, ibu bijak sekali, ibu tidak mempermalukanku di depan teman-teman. Sesuai janji, Aku akan mewujudkan harapanmu,” bisikku beberapa puluh tahun lalu.

Iklan