Renungan Malam

Malam belumlah terlalu larut, ada sesuatu yang mengusik hati, membuat resah lalu mengajakku merenung. Merenung kepada kumpulan peristiwa yang dialami oleh anak manusia. Perjalanan demi perjalan telah dilalui dengan pemahaman diri sendiri. Tetapi itulah hidup, tempat dimana kita mematangkan diri dengan kesadaran yang benar.

Hidup sebagai seorang petani tradisional dan penjual nasi dengan membesarkan 5 (lima) orang anak, bukanlah perkara mudah. Namun dengan semangat dan cinta kasih yang begitu tulus, memudahkan mereka untuk membesarkan anak-anak yang sangat mereka sayangi.

Tidak ada istilah mengeluh, ketika kita meminta sesuatu. Mereka sanantiasa berusaha, membuat kita sebagai anaknya bisa senang dan tertawa. Bahkan pendidikan formal tamatan Sekolah Rakyat, tidak menyurutkan niat mereka untuk membimbing anak-anaknya mengenal huruf demi huruf, hingga meraih gelar Sarjana.

Dan ketika masanya tiba, saat dimana mereka termakan usia, kulit mengeriput, rambut memutih, tulang-tulang sudah rapuh, ingatan dan pendengaran sudah tidak peka lagi, masihkan kita menuntut apa yang sudah mereka berikan kepada kita? Bisakah disebut cinta, jika tidak ada rasa percaya? Haruskah mereka yang mengerti kita? Bukankah sebaliknya kita yang memahami mereka?

Tidak ada yang salah dengan memberi kado kepada mereka, akan tetapi hal itu jauh dari benak mereka. Mereka begitu tulus tanpa pamrih. Tidak menagih apa yang telah mereka berikan, tidak menginginkan kado-kado kepalsuan, tidak berharap ucapan-ucapan serimonial, bahkan mereka tidak meminta untuk dihormati dan dipuji.

Sentuhan lembut, penuh perhatian, cinta kasih bersumber dari hati nurani adalah hal terindah yang sangat mereka inginkan. Hal ini juga akan memberikan mereka kesehatan dan ketenangan. Memunculkan cinta kasih dengan melihat segala kebaikan dalam diri mereka, langkah sederhana untuk memuliakan orang tua.

Iklan