Beranda > Kehidupan > Renungan Malam

Renungan Malam

Malam belumlah terlalu larut, ada sesuatu yang mengusik hati, membuat resah lalu mengajakku merenung. Merenung kepada kumpulan peristiwa yang dialami oleh anak manusia. Perjalanan demi perjalan telah dilalui dengan pemahaman diri sendiri. Tetapi itulah hidup, tempat dimana kita mematangkan diri dengan kesadaran yang benar.

Hidup sebagai seorang petani tradisional dan penjual nasi dengan membesarkan 5 (lima) orang anak, bukanlah perkara mudah. Namun dengan semangat dan cinta kasih yang begitu tulus, memudahkan mereka untuk membesarkan anak-anak yang sangat mereka sayangi.

Tidak ada istilah mengeluh, ketika kita meminta sesuatu. Mereka sanantiasa berusaha, membuat kita sebagai anaknya bisa senang dan tertawa. Bahkan pendidikan formal tamatan Sekolah Rakyat, tidak menyurutkan niat mereka untuk membimbing anak-anaknya mengenal huruf demi huruf, hingga meraih gelar Sarjana.

Dan ketika masanya tiba, saat dimana mereka termakan usia, kulit mengeriput, rambut memutih, tulang-tulang sudah rapuh, ingatan dan pendengaran sudah tidak peka lagi, masihkan kita menuntut apa yang sudah mereka berikan kepada kita? Bisakah disebut cinta, jika tidak ada rasa percaya? Haruskah mereka yang mengerti kita? Bukankah sebaliknya kita yang memahami mereka?

Tidak ada yang salah dengan memberi kado kepada mereka, akan tetapi hal itu jauh dari benak mereka. Mereka begitu tulus tanpa pamrih. Tidak menagih apa yang telah mereka berikan, tidak menginginkan kado-kado kepalsuan, tidak berharap ucapan-ucapan serimonial, bahkan mereka tidak meminta untuk dihormati dan dipuji.

Sentuhan lembut, penuh perhatian, cinta kasih bersumber dari hati nurani adalah hal terindah yang sangat mereka inginkan. Hal ini juga akan memberikan mereka kesehatan dan ketenangan. Memunculkan cinta kasih dengan melihat segala kebaikan dalam diri mereka, langkah sederhana untuk memuliakan orang tua.

Iklan
  1. 30/01/2016 pukul 2:59 pm

    Makasih renungan malamnya, walau saya baca disiang hari, masih tetep bisa membangkitkan kerinduan yang dalam untuk orang tua. semoga mereka sehat selalu.

  2. dey
    29/12/2015 pukul 8:58 pm

    Salam buat Bapak & Ibu yang usianya bertambah di bulan ini. Panjang umur & sehat selalu.

  3. 22/12/2015 pukul 6:39 pm

    Renungan yang sungguh mengena, Bli
    Sebagai anak seringkali kita tidak menyadari betapa besar pengorbanan yang diberikan orang tua kita, pada saat giliran kita sudah menjadi orang tua dan mendapat perlakuan dari anak kita seperti kita dulu memperlakukan orang tua kita, barulah kita bisa merasakannya

  4. 21/12/2015 pukul 8:09 pm

    Suksma Bli, tuk renungan yang dalam. Proses belajar kemurnian berlaku sebagai anak dan kemudian orang tua yang tak pernah usai. Salam hangat tuk kelg Jembrana

  5. Nchie Hanie
    21/12/2015 pukul 6:20 am

    makasih renungannya kaka…
    Mengingatkan aku pada orang tua dan mertua, hiks..
    Kalo dah ngomongin ortu, bawannya melow..

    *siyap2 jd ortu yg bakalan menua, keriput, peot, tp kan slalu menebarkan cinta kasih pd anaknya eeaaa

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: