Skip to content

Bahagia Itu Kamu, Maya

22/04/2015
tags: ,

Pagi menyapaku dengan penuh hangat. Kicau burung bersimfoni dengan datangnya sang fajar. Perlahan kupejamkan mata dan kurentangkan tangan. Tenang. Sejuk. Itulah yang kurasa. “Selamat pagi sang Surya, pagi ini aku tidak memotretmu, aku tunggu saat engkau naik ke peraduan malam,” bisikku.

Kuluangkan waktu untuk sekedar membersihkan dan merapikan isi kamarku. Sesaat kemudian, mataku tertuju pada sebuah buku diary. Perlahan aku buka dan membacanya. Tiap lembar membawakanku syair-syair masa lalu yang membuatku kembali ke masa lampau. Hingga aku terhenti pada lembar ke-22

Saat Kau Pergi

Sejenak aku terdiam di sini, menatap bayangmu dalam gelisah. Kosong. Hampa, tak bertuan rindu dalam jiwa. Dan Kutatap langit yang diinterogasi sang waktu, menyapa kemelut berkepanjangan antara angan dan mimpi. Tercabik. Teracak, membawaku letih mengarungi jagad sepi.

Sebuah puisi yang aku tuliskan buat Maya, dua tahun lalu. Wanita yang memiliki tempat khusus di hati, dan wanita yang senantiasa ada dalam benih-benih kerinduanku.

Aku tersenyum getir, seraya menghela nafas, mengenang kembali kisah dua tahun lalu saat Maya harus pergi bersama pilihan kedua orang tuanya. Kasta. Sebuah prinsip dari orang tua Maya.

***

“Maafkan aku ya Bli, semuanya ini harus berakhir. Aku tak bisa menolak keinginan kedua orang tuaku,” kata Maya perlahan.

Aku hanya terdiam. Merenung. Tak ada kata yang mampu keluar dari mulutku. Sementara jemariku masih memegang jemari Maya. Terpaut. Tanpa jeda.

“Sekali lagi maafkan aku ya Bli, meskipun semua ini harus berakhir, namun perasaanku masih tetap sama Bli. Percayalah.”

“Jika itu memang tetap sama, haruskah semua ini berakhir?”

Tiada kata yang mengalir dari bibir tipisnya. Buliran merupa mutiara mulai membasahi rona pipi yang senantiasa aku belai. Sungguh tiada ketegaan saat melihatnya dalam kondisi sulit. Yang harus memilih dua cinta. Aku dan orang tuanya.

“Kapan pertunangan itu dilaksanakan?” tanyaku sembari menghapus aliran air matanya.

“Mungkin bulan depan Bli.” Maya sedikit lemas setelah berucap. Ada keresahan dan ketegangan yang tidak bisa aku mengerti.

Kurengkuh Maya dengan segenap rasa, yang tak pernah padam dalam kerinduan yang tiada batas. Hatiku terpekik. Ada rasa yang tak rela. Namun apalah daya, cuman berpasrah, dan berdoa semoga Maya bahagia. Dengan caranya.

***

Kususuri pantai yang tidak terlalu ramai sore itu. Aku berjalan perlahan. Kutatap langit dengan penuh senyum, “Teruslah engkau cantik hingga senja akan tiba, dan aku bisa mendapatkan foto yang terbaik” bisikku penuh harap.

Sambil tersenyum melihat beberapa orang yang menikmati senja dengan caranya masing-masing. Langkahku terhenti pada sebuah batu karang. Mulai mencari sudut dan mengambil beberapa foto.

Senja masih memayungi kami para penikmatnya. Sementara aku tetap menikmati dengan caraku sendiri, hingga sebuah suara mengagetkanku.

“Apa kabar Bli?” Matanya masih tetap sama, begitupun dengan senyumnya. Aku masih terdiam dan hanya memandang sosok yang ada di sampingku.

“Kenapa Bli? Lihat hantu ya?”

“Maya? Kapan kamu pulang?” tanyaku sedikit gugup.

“Sudah seminggu Bli, tapi baru hari ini bisa mainan. Tadi sempat ke rumahnya Bli, namun ibu bilang Bli lagi motret di Pantai. Jadi aku langsung ke sini Bli,” jawab Maya penuh semangat.

“Kamu sendirian saja? Suamimu mana?”

“Seperti yang Bli lihat, aku sendirian Bli. Aku sudah bercerai sebulan lalu, dan ceritanya panjang Bli.”

“Lalu Pacar Bli mana nich? Kata ibu, Bli masih suka sendiri yach?

Dengan sedikit bergetar, dan menghalau semua keraguan dalam hati, aku menatapnya penuh kasih. “Maya, seperti yang kamu lihat juga. Karena bahagia Bli itu adalah kamu, Maya. Bli belum pernah berfikir untuk menggantikan nama kamu di hati Bli,” jawabku penuh gemetar.

Sejenak semua terdiam. Sesekali terdengar deburan ombak dan desiran angin pantai yang ikut menyertai kebisuan kami. Dadaku berkecamuk. Sedih. Bahagia. Takut. Entahlah.

“Terima kasih Bli, seperti janjiku dahulu. Perasaanku masih tetap sama Bli, tidak pernah berubah, dahulu, sekarang dan nanti,” jelas Maya.

Jermari kami saling bertaut. Terkadang hidup penuh dengan kejutan yang tidak pernah kita duga, yakin dan percayalah Bahagia itu akan selalu ada.

5 Komentar leave one →
  1. 30/01/2016 3:05 pm

    bagus mas cerpennya. kenapa gak bikin novel aja mas?
    coba deh bikin novel yang lebih komplek lagi ceritanya, saya siap nunggu terbitnya deh

  2. 14/08/2015 11:24 am

    Bagus banget, Bli

  3. 28/06/2015 9:41 pm

    Siap menunggu buku kumpulan cerpen karya Bli…

  4. 07/06/2015 7:37 am

    hadeuuuh…mekita ngeling maca puk… Romantis..dan syukurnya happy ending..

  5. 03/06/2015 11:17 pm

    hohoho …😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: