Beranda > Flash Fiction > Mimpi Mawar

Mimpi Mawar

Anak itu berdiri di bawah lampu lalu lintas, sebut saja namanya Mawar. Gadis sebelas tahun dengan rambut kusam, begitu awas memperhatikan laju kendaraan. Sigap. Jeli, menunggu saat tepat kapan kendaraan itu berhenti. Kaki mungilnya mulai melangkah, menghampiri kendaraan dan menjajakan beberapa minuman kemasan.

Lima mobil telah terlewati, tak satupun dari para pengemudi membuka kaca mobil. Semuanya menggeleng. Mawar terus melangkah, hingga salah satu mobil membuka kaca, dan membeli dua botol minuman. Mawar tersenyum, “Terima kasih Om,” ucapnya lirih. Perlahan kendaraan mulai bergerak, Mawar menepi mencari posisi aman.

Hari mulai malam. Mawar bergegas menuju salah satu emper toko yang ia jadikan rumah. Dengan alas karton bekas, Ia duduk. Bersimpuh. Dan mulai berbicara kepada malam.

”Ya Allah, terima kasih atas rejekiMU hari ini, berikanlah kemudahan untuk hari esok, hingga hamba menikmati berkahMU. Ya Allah, jika hamba terlahir tanpa kasih sayang ayah dan ibu, tidak mengapa, mungkin ini yang terbaik bagi hamba, namun bila waktunya tiba, ijinkanlah hamba duduk di dalam kelas, menggunakan seragam bersama anak-anak yang lain, Amin.”

Hanya kalimat itu yang sering terucap dari bibir Mawar saat berdoa.

***

Siang itu tak seperti biasanya. Sengatan Matahari begitu terasa. Di tempat Mawar dan teman-temannya mencari rejeki terjadi insiden. Beberapa anak dan orang tua berlarian, sebagian diantaranya berhasil diamankan oleh petugas Trantib. Mereka meronta. Menangis. Mengiba. Meminta belas kasihan petugas yang hendak menaikkan mereka ke dalam mobil. Percuma, itu semua tak membuat para Petugas bergeming. Mereka tetap melakukan kewajibannya.

Dengan wajah pucat, nafas tersengal, dan jantung berdetak kencang, Mawar mengintip dari tempat persembunyian. Memperhatikan beberapa teman profesinya berhasil dinaikkan ke mobil petugas yang berlalu meninggalkan lokasi.

Mawar telah diselamatkan oleh seorang ibu pemilik warung ketika ia berlari menghindari petugas.

“Begitulah nak, hidup di antara aspal dan polusi kendaraan, berjualan di bawah terik matahari, meskipun bagi kita itu adalah sebuah lantunan hati, terkadang menjadi kenyataan yang pahit. Nah, kamu makan dulu nak ya, setelah aman kamu boleh keluar,” nasehat Ibu pemilik warung.

Mawar mengangguk. Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Rasa takut mulai hilang, predikat “anak pinggiran” di tengah derasnya laju kehidupan masa kini menjadikan ia anak yang tegar di antara gedung-gedung pencakar langit.

*Inspirasi dalam travel.

Iklan
  1. 30/10/2014 pukul 4:09 pm

    kenapa nama2 bunga moloo.
    pecinta wanita ya, plus pecinta bunga
    *kaboorr

    • 30/10/2014 pukul 4:14 pm

      kenapa ga nama nchie, dey, lidya, :v
      *kaboor lagih

      • 02/11/2014 pukul 7:28 am

        kwkwkwk kalau nchie, dey, lidya mah itu nama-nama yang terukir indah kwkwkkwkwkwkw twing..twing..twing

  2. 22/10/2014 pukul 4:55 pm

    Melati aja Bli lebih harus heheh

    • 02/11/2014 pukul 7:27 am

      Kali ini saya tolak mbak…karena Melati spesial buat yang di rumah 😉

  3. 18/10/2014 pukul 7:27 pm

    pembangunan dan kota besar..juga meninggalkan sisi pedih, bahkan untuk anak-anak yang tak berdaya..

    • 02/11/2014 pukul 7:26 am

      Pasti ada dampak positif dan negatifnya mbok yach

  4. 13/10/2014 pukul 10:16 pm

    Mawar semakin tegar tak mudah tawar semangat ya
    Sisi melankolis Bli Putu
    Salam

    • 02/11/2014 pukul 7:25 am

      kwkwkwkwk mbakku yang cantik ini..selalu membuat adiknya jungkir balik xixixixi slam mbak yach

  5. 12/10/2014 pukul 8:35 pm

    Kalau diamankan petugas trantib, mereka diapain sih akhirnya? Kalau ternyata disekolahin kan bs untung.. Anak-anak itu kan harusnya pendidikannya masih ditanggung negara..

    • 02/11/2014 pukul 7:24 am

      Inilah dilema yang terjadi mbak..satu sisi menertibkan kota kemudian dibawa ke dinas sosial..selanjutnya kurang paham juga, satu sisi ada rasa mereka merasa lebih nyaman dengan kondisi sekarang..namun ada yang membantu menyekolahkan..

  6. 09/10/2014 pukul 2:09 pm

    mata kembali mengembun manakala membaca keinginan Mawar untuk bersekolah, tak berlebihan, sangat sederhana ( bagi sebagian orang , tapi istimewa bagi seorang anak seperti Mawar ) namun seringkali terlupa oleh kita yang merasa bahwa yang demikian itu biasa-biasa saja

    • 02/11/2014 pukul 7:21 am

      Saat kita memandang mereka dengan bathin dan berbica dengan hati..saat itulah kita meresa bagian dari kehidupan mereka ya kang…

  7. dey
    08/10/2014 pukul 5:28 pm

    Kembali melankolis … hehehe

    Sebut saja namanya mawar, kayak berita2 di TV aja. Kenapa bukan kenanga, lantana atau yg lain coba ? Hahahaha, kabur ah sebelum digetok Bli karena banyak protes 😀

    • 02/11/2014 pukul 7:20 am

      kwkwkwkwkw hanya itu yang terbesit di kepala mbak..lantana ngak kepikiran sama sekali kwkwkwkw

  8. 08/10/2014 pukul 3:24 pm

    Tak cuma Mawar. Melati, Anggrek, mungkin juga serupa nasibnya

    • 02/11/2014 pukul 7:19 am

      masih banyak kisah lainnya yach

  9. Evi
    08/10/2014 pukul 9:35 am

    Banyak anak seperti Mawar ya Bli. Tiap kali menatap mereka hati jadi pilu. Tapi yah sebatas pilu saja. Dan tambah pilu lagi karena saya tak bisa berbuat lebih banyak untuk mereka

    • 02/11/2014 pukul 7:18 am

      Itulah yang saya rasa mbak..tangan dan kaki saya masih penuh dengan beban..jadi hanya sebatas berempati..ngak bisa berbuat lebih dan berharp tangan dan kaki mereka yang lebih ringan untuk membelai anak-anak sekelas mawar

  10. 08/10/2014 pukul 7:53 am

    Subhanallah, seharusnya kita lebih banyak bersyukur memiliki kehidupan lebih baik dari mereka. Kabulkan do’anya ya Rabb….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: