Beranda > Kisah > Kisah Topeng Sidakarya

Kisah Topeng Sidakarya

Di kalangan masyarakat hindu Bali, ada yang disebut dengan Topeng Sidakarya. Suatu pertunjukan topeng yang dimainkan dalam suatu upacara/yadnya. Ada kisah yang menarik dibalik pertunjukan Topeng Sidakarya. Kebetulan pada masa jayanya, ayah saya sering memainkan Topeng Sidakarya, jadi saya sedikit mengupas cerita topeng ini dari ayah.

Pada masa kerajaan Bali yang diperintah oleh Raja Dalem Waturenggong, beliau mengadakan upacara besar di Besakih. Banyak raja maupun pandita yang diundang pada acara tersebut.

Tersebutlah Brahmana Keling, seorang brahmana sakti berwajah jelek dan merupakan adik sang raja yang tinggal di Jawa. Mendengar kabar kakaknya melaksanakan upacara/yadnya, Brahmana Keling datang ke Bali. Begitu sampai di Besakih, banyak raja maupun pandita mempertanyakan kehadiran Brahmana Keling yang kumal dan jelek. Karena malu mengakui sebagai saudara, Raja Dalem Waturenggong akhirnya mengusir Brahmana Keling, setelah sebelumnya sempat dihina.

Brahmana Keling pergi dengan perasaan kecewa. Disuatu tempat yang sepi, beliau mengeluarkan kesaktian melalui mantra yang berisi sumpah/pastu agar upacara/yadnya yang dilakukan oleh Raja Dalem Waturenggong tidak berhasil atau tan sidakarya. Semua banten (sarana upacara) menjadi busuk, hama penyakit menyerang warga, ribuan tikus merusak ladang petani, sehingga rakyat menjadi resah.

Segala upaya telah dilaksanakan oleh Raja Dalem Waturenggong untuk mengatasi masalah ini, namun tetap tidak merubah keadaan. Sampai akhirnya Raja sendiri turun tangan untuk melaksanakan tapa semadi. Memohon kepada Yang Maha Kuasa. Akhirnya beliau mendapat pawisik (wahyu) bahwa Raja Dalem Waturenggong harus meminta maaf kepada Brahmana Keling, hanya dialah yang mampu mengembalikan keadaan seperti semula. Raja Dalem Waturenggong akhirnya mengutus patihnya untuk menjemput Brahmana Keling.

Singkat cerita, rombongan penjemput bertemu dengan Brahmana Keling. Mereka menghaturkan sembah sujud dan menyampaikan maksud kedatangannya. Brahmana Keling menolak penjemputan tersebut. Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya berangkatlah Brahmana Keling bertemu dengan raja. Rajapun meminta maaf dan mempersilahkan Brahmana Keling untuk ikut ambil bagian dalam upacara tersebut. Disinilah terjadi petuah-petuah yang diberikan oleh Brahmana Keling kepada Raja, “Jadilah raja yang baik, jangan mengandalkan wajah bagus atau kekayaan, senantiasalah rendah hati,” nasehat Brahmana Keling kepada Raja. Akhirnya dengan kesaktian Brahmana Keling, keadaan dapat dikembalikan seperti semula, dan Brahmana Keling menjadi pamuput akhir hingga upacara/yadnya menjadi sida (diberkahi).

Sebelum pergi meninggalkan Besakih, Brahmana Keling meminta kepada raja untuk mencari tukang pahat dan membuat topeng wajah dirinya. Disamping itu pada setiap upacara/yadnya keagamaan supaya dipertunjukkan sebagai pertanda upacara/yadnya puput (selesai) dan menjadi sida (diberkahi).

Nah dalam pertunjukan Topeng Sidakarya, topeng-topeng dibawah ini yang biasa muncul

000 Tari Topeng Sidakarya

Kalau ada Topeng Tua muncul dalam suatu pertunjukan, seperti gambar dibawan ini, adalah polesan cerita untuk mempermanis pertunjukan.

0017 upload FB Om deniek

Iklan
  1. 02/06/2014 pukul 2:25 pm

    Wah jadi tambah pengetahuan mengenai Topeng Sidakarya nih Bli. Terimakasih.
    Memang sebaiknya kalau menilai seseorang jangan dari apa yang tampak, karena belum tentu begitulah adanya orang itu ya Bli.

  2. 30/05/2014 pukul 10:04 pm

    Pembelajaran budi pekerti melalui topeng Sidakarya, menilik batin hati tak hanya mengandalkan fisik. Suksma Bli, beragi keelokan budaya.

  3. 29/05/2014 pukul 11:40 am

    baru tahu ceritanya begitu..Bud. ..padahal sering nonton Topeng Sidakarya.. berarti selama ini Mbok kurang menyimak ini.. he he

    • 29/05/2014 pukul 12:02 pm

      kwkwkwkwkw karena ampun mekelo di rantau heheheh

  4. 28/05/2014 pukul 10:39 am

    pertunjukan topeng ini jarang dilihat kalau disini ya Bli, kecuali ada even tertentu

  5. 27/05/2014 pukul 6:49 pm

    Jadi pengen lihat langsung pertunjukkan Topeng Sidakarya bli 🙂

  6. 27/05/2014 pukul 4:10 pm

    cerita yang menarik, ada makna tersendiri dalam petuah di atas dengan mengilhami menjadi sebuah kisah topeng 🙂

    • 29/05/2014 pukul 12:01 pm

      falsafah hidup lebih dominan dituangkan dalam seni kadang ya mbak

      • 02/06/2014 pukul 12:29 am

        Karena dari seni orang-orang bisa membacanya lewat gaya tersendiri 🙂

  7. 27/05/2014 pukul 2:35 pm

    Terima kasih sdh berbagi cerita ini, Bli… jadi menambah pengetahuan budaya saya 🙂

    • 29/05/2014 pukul 12:00 pm

      Terima kasih mbak..itu juga dapat penjlsan dari bapak hihihi

  8. dey
    27/05/2014 pukul 1:48 pm

    Beruntung banget kemarin Minggu bisa liat langsung pertunjukan tari topeng ini walau bukan di Bali. Dan tau cerita lengkapnya di sini 😉

    Ntar Fauzan dikenalin sama topeng tua ya Om, biar ngga kabur lagi kalo disamperin .. hehehe.

    • 29/05/2014 pukul 12:00 pm

      kwkkwk ntar kalau ada tak ajak Fauzan nonton hihihi

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: