Beranda > Flash Fiction > Biru Yang Merindu

Biru Yang Merindu

001 Tunjung FB IMG_4322

Apakah aku egois? Tidakkah aku berlebihan? Biru tak bergeming, ia resah dengan keputusan. Semuanya terlihat begitu sederhana. Namun kesederhanaan telah membuat gumpalan air yang telah mengering di tepi penglihatan Biru. Mengaburkan. Dan saat rindu merajah, Biru terduduk, mendesah dengan senyum penuh luka.

Iklan
Kategori:Flash Fiction Tag:, , ,
  1. 01/03/2014 pukul 11:09 am

    Reblogged this on primaputrie.

  2. 18/02/2014 pukul 8:00 pm

    masih kaya dulu tulisan nya… dree selalu suka..

  3. 17/02/2014 pukul 11:39 am

    biru keunguan kayanya 🙂

  4. 16/02/2014 pukul 10:03 pm

    Tunjung biru nan indah……
    haru biru dengan puisi pilunya, untaian katanya indah banget
    Salam

    • 17/02/2014 pukul 7:47 pm

      Menunggu kata indahnya dari mbak Prih nich

  5. 16/02/2014 pukul 2:24 pm

    Kata-katanya pas banget dengan fotonya yang bagus

  6. 16/02/2014 pukul 8:34 am

    teratai biru ini banyak banget di pura ya bli.
    sering banget ketemu teratai ini. 🙂

  7. 15/02/2014 pukul 5:06 pm

    “Dan saat rindu merajah, Biru terduduk, mendesah dengan senyum penuh luka.” <– aah… dan maaf, bagiku ini bukan biru, ini ungu yang lain, hehe…

    • dey
      15/02/2014 pukul 5:51 pm

      Antara ungu dan biru, tipis batasnya, hehehehe

      Tapi aku suka kata2nya 😉

      • 15/02/2014 pukul 6:02 pm

        Hihihihii bener2 lebih dominan ungunya hahahahahh…cuman aku bilang itu tunjung biru hihihii

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: