Hunting Foto Budaya “Mekepung Lampit”

Cerita tentang mekepung memang tidak ada habisnya. Jika pada artikel terdahulu saya bercerita tentang mekepung di sini, di sana dan di situ, semuanya itu adalah mekepung konvensional yang menggunakan cikar dan melaju di atas sirkuit. Namun mekepung kali ini sedikit berbeda, karena melaju di areal persawahan yang berisi air saat musim tanam. Masyarakat Br. Peh, Ds. Kaliakah, Kab. Jembrana mengistilahkan dengan Mekepung Lampit atau Mekepung Basah.

Konon menurut tetua di banjar tersebut, Mekepung Lampit atau akrab disebut Mekepung Basah adalah awal mula dari mekepung yang kita kenal sekarang ini. Kala itu, selesai membajak sawah, para petani sengaja berkumpul untuk mengadakan pekepungan lampit. Teriakan dan tepukan tangan di antara mereka sanggup mempererat rasa persaudaraan para petani.

Kini mekepung lampit dilaksanakan sebagai ajang latihan sebelum bertanding. Aksesoris pada mekepung lampitpun sangat sederhana. Para joki tidak harus berpakain lengkap, mereka bertelanjang dada, memakai kampuh (kamben) dan ikat kepala (udeng). Begitu juga dengan kerbau pacu, asesoris dikepalanya sederhana namun tetap menggunakan bendera.

Mengingat atraksi kuno ini cukup menarik, kami anak-anak KFJ (Komunitas Fotografi Jembrana) menyelenggarakan hunting bersama yang bertemakan “Foto Budaya Mekepung Lampit” pada hari Minggu, (12/01) Pesertanya cukup lumayan, teman-teman komunitas fotografer denpasarpun turut meramaikan acara ini. Kehebohan tidak berhenti saat kami memotret kerbau saja, namun berlanjut ketika kami foto bareng 😆 KLIK!!

002FB IMG_2318

Start Pertama

004fb  lampit

Meninggalkan Lawan

005FB IMG_2433

Berpacu Dalam Lumpur

Foto bareng

Foto Bareng

Iklan