Belajar Beladiri

“Bu, kenapa anaknya disuruh belajar beladiri? Itu kan mengajarkan kekerasan.” Mendengar kata beladiri, terkadang terbayang dipikiran kita adalah kekerasan yang melibatkan adu fisik. Sehingga tidak salah kalau ucapan-ucapan seperti di atas kerap kali kita dengar ketika berbicara tentang beladiri.

Bagi saya sendiri, olahraga beladiri bukan sekedar adu otot, bukan sekedar ciatt..ciatt..ciatt, bukan pula sekedar tendang sana dan sini. Namun lebih kepada pemahaman konsentrasi, meningkatkan kewaspadaan dan menganalisa situasi sulit.

Lalu bagaimana dengan anak-anak SD yang mau belajar beladiri? Apakah mereka bisa memahaminya? Segala sesuatu tidak ada yang instan, semua berproses dan mengalami jenjang peningkatan.  Pada tingkat anak-anak biasanya lebih fokus kepada  pembentukan kesehatan dan permainan seni dalam beladiri.

Terhadap kemungkinan cidera yang dialami, tentu itu bagian dari sebuah proses juga. Karena dengan berani menerima resiko cidera saat latihan ia akan dapat belajar, merasakan, berubah, dan bertumbuh. Hal inilah yang membentuk mereka menjadi patuh, disiplin dan bertanggung jawab.

Hal yang penting juga adalah peran seorang pelatih untuk mendampingi mereka dalam memberikan teknik yang sesuai dengan usia maupun kondisi fisik anak, serta secara terus menerus menanamkan nilai-nilai kebajikan tentang beladiri. Dan bagi saya beladiri adalah “sesuatu tentang menghargai hidup.” (hidup orang lain maupun hidup diri sendiri).

Iklan