Perahu Rapuh

Sampan usak03 FB_6308

Matahari perlahan terbenam di pesisir pantai Perancak. Kita berdiri memandang perahu tua yang merapuh tak berharga. Tiada lengan dan tiada jala. Kulirik arloji di tangan. Masih ada waktu untuk kita bincang tentang perahu tua, tentang laut dan isinya, juga tentang nenek moyang kita yang katanya seorang pelaut.

Terlintas dibenakku kejayaan perahu rapuh beberapa tahun silam. Perkasa mengarungi samudra di antara nyanyian badai dan tarian ombak. Kini ia terdiam. Membisu. Tak bernahkoda dan tak berdarmaga.

Bias senja mulai menghilang, kulangkahkan kaki meninggalkan perahu rapuh. Sambil mengingat kembali sebuah syair yang pernah aku baca. “Wahai muda kenali dirimu, ialah perahu tamsil tubuhmu, tiada berapa lama hidupmu, ke akhirat jua kekal diammu.”

Iklan