Adakah Rindu Buat Aku

Saat sinar mentari mulai menyusut di ufuk barat dan sang rembulan mencurahkan cahaya peraknya di antara selimut malam bermutiarakan bintang-bintang, Arif duduk termenung bersama sebuah kidung di dalam hatinya yang tak terkatakan.

Syair-syair masa lalu yang disebarkan oleh kesunyian, yang dipahami oleh cinta dan disembunyikan oleh kesadaran, telah membuatnya kembali ke masa lampau.

Masa dimana pohon perdu pinggir pantai telah mengukir indah nama mereka. Terbasuh dalam tetesan air hujan pengiring senja yang disiarkan oleh mulut-mulut mungil anak pantai.

Masa dimana derasnya air pegunungan tak menyurutkan niatnya untuk menyebrang menuju batu harapan. Harapan bersama saat mereka mengenal kata cinta.

Masa ketika tangisan gubuk di ladang tua sebagai tempat berteduh mereka, dari segala getir dan penolakan-penolakan terhadap sebuah prinsip yang membuat mereka berjanji satu sama lain dalam ikatan gelang alit.

Perlahan Arif berdiri dan menatap bulan yang masih tersenyum, ia membuka bibir dan berkata,”Wahai engkau sumber terang di malam gelap, saat engkau memberikan cinta kepada malam melalui sinarmu, aku pun mencintai seseorang di ujung sana! Meskipun aku lelah dan letih, tak ada kata untuk berhenti mencintainya. Jika kau melihatnya malam ini, sampaikan pesanku untuknya.”

Setelah beberapa saat hening, Arif bersimpuh dan memejamkan matanya yang berkaca-kaca serta menadahkan tangan bagai seorang pengemis, lalu ia berseru, “Wahai engkau di ujung sana, adakah rindu buat aku?”

Iklan