Adikku Sayang, Adikku Manis

Anak adalah anugrah terindah dari Tuhan. Tingkah laku, kepolosan, keluguan dan kejenakaan mereka sering kali membuat kita senang dan tertawa. Meskipun dunia digital dalam bentuk game online telah merasuki mereka, tidak ada salahnya kita menulis cerpen anak, agar mereka tetap mencintai kisah anak-anak.

Adikku Sayang, Adikku Manis

Malam begitu dingin. Bintang berpendar indah, sementara cahaya bulan tampak malu terpancar dari balik awan. Sepintas kulihat jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Ayah dan Ibu masih sibuk membuat sesuatu untuk jualan esok hari. Sementara adikku cekikikan sendiri di depan TV.

Kulangkahkan kaki menuju kamar tidur. Mengambil beberapa buku untuk sekedar aku baca. “Kak! Sekarang kan masih libur, kenapa kakak belajar?” tanya Agas memecah konsentrasi. Aku tersenyum, “Adik, meskipun libur, ngak ada salahnya kalau kita baca-baca buku kan? Adik masih ingat ngak kata pepatah, rajin pangkal pandai? Nah kalau kita rajin membaca buku pelajaran, kita akan pandai.” Terangku kepada Agastya.

Adikku hanya manggut-manggut. Ia berlari keluar kamar membiarkan aku sendiri dengan lembaran LKS SMP. Tidak lama ia datang sambil membawa buku pelajaran, “Kak, Agas mau ikut belajar ya, biar Agas pintar dan bisa rangking I seperti kakak,” seru Agas sembari duduk di sebelahku.

Aku hanya tersenyum dengan tingkah adikku. Meskipun Agas sedikit ogah-ogahan untuk belajar, tetapi ia rajin untuk membaca, hingga ia mendapat rangki II di kelas saat semester I kemarin. Kamipun belajar bersama, sambil menunggu kedua orang tua kami menyelesaikan pekerjaannya.

Cintya dan Agastya

Cintya dan Agastya

Iklan