Harapan

Malam belum juga larut. Kakiku terus melangkah dan aku mengikutinya hingga kami terhenti di sebuah ladang yang jauh. Kutatap cakrawala, di situ ada segerombolan awan yang saling beriringan.

Kemudian aku melihat ke arah cabang pohon yang gundul. Tak satu helai daun tersisa di sana. Aku menengadah, berharap ada sesuatu yang mengembalikan daunnya.

Dalam diam aku berkata kepada kakiku, “Kita berada di mana kawan?” dengan singkat ia menjawab, “Kita berada di ladang kebingunan sobat.”

“Sabar teman, ini hanyalah bayangan. Ini adalah waktu menjelang malam, dan tunggulah beberapa saat! Ketika engkau membuka mata, pagi akan tiba!” kata hatiku.

Iklan