Beranda > Flash Fiction > Harapan

Harapan

Malam belum juga larut. Kakiku terus melangkah dan aku mengikutinya hingga kami terhenti di sebuah ladang yang jauh. Kutatap cakrawala, di situ ada segerombolan awan yang saling beriringan.

Kemudian aku melihat ke arah cabang pohon yang gundul. Tak satu helai daun tersisa di sana. Aku menengadah, berharap ada sesuatu yang mengembalikan daunnya.

Dalam diam aku berkata kepada kakiku, “Kita berada di mana kawan?” dengan singkat ia menjawab, “Kita berada di ladang kebingunan sobat.”

“Sabar teman, ini hanyalah bayangan. Ini adalah waktu menjelang malam, dan tunggulah beberapa saat! Ketika engkau membuka mata, pagi akan tiba!” kata hatiku.

Iklan
  1. 28/11/2012 pukul 8:01 am

    Kebingungan biasanya hanya sesaat, karena jawaban dari tiap persoalan biasanya akan datang di saat berikutnya…
    Foto yang indah Bli, indah banget!

  2. 26/11/2012 pukul 3:05 am

    Cakeeeep awannyaaa bli…

  3. Ely Meyer
    25/11/2012 pukul 11:09 pm

    Fotonya kereeeeeeennn sekali bli 🙂

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: