Alam Dan Manusia

Aku duduk terpekur pada sebuah batu tak jauh dari gerombolan ilalang, perlahan aku rasakan semilir angin melintasi ranting-ranting pohon menyentuh kulitku yang semakin keriput. Dan terdengar ratapan air sungai menyayat hati seperti seorang janda yang meratapi kematian suaminya di medan perang.

“Mengapa engkau menangis wahai aliran sungaiku?” tanyaku. “Karena aku dipaksa mengalir ke kota, dimana manusia-manusia tak bertanggung jawab menodai kesucianku, melempariku dengan tumpukan sampah, hingga aroma busuk menyelimutiku. Dan rasa malu menghantuiku, saat anak-anak mereka bercumbu dengan diriku,” jawab aliran sungai.

Iklan