Budi Kembali Menulis

Tak kusangka bisikan angin begitu kencang. Mengajak awan untuk berarak hingga memanggil badai bersama hujan. Di saat kita bergandeng tangan menyemai tanaman di ladang tua, dan saat kita mulai yakin untuk panen pada musim berikutnya, hujan dan badai memporak-porandakan semua.

Hanya diam yang aku lakukan saat itu. Memandang sisa riwayat tanaman yang kita semai bersama. Meskipun ada keraguan saat aku melihatmu, namun aku turus berjalan menghadapi badai itu. Karena aku datang untuk satu alasan dan satu tujuan.

Oopss….ternyata lama juga si Budi hiatus. Begitu menulis langsung mengajak angin, awan, hujan dan badai dalam ceritanya 😆 Ucapan terima kasih kepada teman semua yang masih setia datang berkunjung dan berkomentar, spesial untuk pak Guru Anti Biasa, UTS saya banyak merahnya dong 😆

Iklan

22 pemikiran pada “Budi Kembali Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s