Beranda > Flash Fiction > Bulan Sabit

Bulan Sabit

Malam itu, kulihat bulan tak begitu sempurna. Sinarnya begitu lembut, membelai wajah kita dengan sentuhan damai. Sebuah pantai tak begitu ramai, dengan riak ombaknya yang  menghembuskan dingin, memaksa kita untuk saling melekatkan jemari.

Seiring dengan itu, perlahan engkau rebahkan kepalamu di dadaku yang tidak  terlalu bidang. Memandang lurus ke arah bias sinar bulan sabit, yang bermain manja di antara riak ombak di pantai itu.

Perlahan engkau tengadahkan wajah, memandangku dengan iringan senyum kecil di bibir manismu. Entah apa yang kau dan aku rasakan saat  itu, hanya satu kalimat bergolak dalam hatiku, “Ya, aku sangat menginginkan dirimu.” Kutarik nafas dalam-dalam seraya memelukmu erat, seiringi dengan bayangan sunyi di pantai itu.

Perlahan kau lepaskan pelukanku, memandangku penuh kasih. Dengan lembut engkau berkata, “Sayang, Aku sangat menyanyangi kamu.” Aku terdiam, kulihat rambut panjangmu yang tertiup angin sesekali  menutupi wajahmu. “Aku juga sayang kamu, Melati..” jawabku penuh  haru.

Sesaat kupandang bulan yang tak sempurna, bulan sabit.  Ya. Bulan sabit, ia tetap bersinar indah, di antara bintang dan deburan ombak di pantai itu, “Sungguh besar karuniaMu Tuhan, sebagai anugrah yang tak terlupakan,” bisikku sambil memeluk rapat tubuhmu.

Iklan
  1. 27/09/2012 pukul 11:19 am

    keren abis artikelnya

  2. 22/08/2012 pukul 8:47 pm

    jujur saya masih belum paham kang sama post ini… 😀

    • 23/08/2012 pukul 7:05 am

      anak di bawah umur jangan membaca 😆

  3. 22/08/2012 pukul 5:08 pm

    waduuh.. romantisnya Bud…Jadi ikut ngebayanginnya he he..

    • 23/08/2012 pukul 7:05 am

      Benjang rereh bulan kapangan…nikmati sensasinya mbok dek heee

  4. 22/08/2012 pukul 2:15 pm

    Selamat Bulan Sabit Bli… 😀

    • 23/08/2012 pukul 7:04 am

      hahahah itu awal mulanya dulu pakde…jadi sekarang merayakannya 🙂

  5. Evi
    22/08/2012 pukul 11:50 am

    Tariiiikkkk…Bli ingat anak-anak dalam rumah…

    • 23/08/2012 pukul 7:03 am

      hahahahah mbak evi…anak-anak tak titip dengan mbaknya dulu…saya ber honey2 dulu kikiki

  6. Ely Meyer
    22/08/2012 pukul 2:07 am

    suit …. suit .. 😛

  7. 21/08/2012 pukul 8:43 pm

    ada yang lagi jatuh cinta ternyata 🙂

    • 22/08/2012 pukul 9:18 am

      Kalau udah mulai bergetar sedikit, bangkitkan kembali dengan cinta itu mbak yach. heee

  8. Tina Latief
    21/08/2012 pukul 12:22 pm

    yang indah sebetulnya bukan bulan sabitnya mas bud, tapi dua sejolinya itu 😀

    • 22/08/2012 pukul 9:17 am

      inguk2 cari melati…bener ngak yach 😆

  9. 21/08/2012 pukul 10:29 am

    Melati? owh ternyata kau telah menduakan cintaklu dengan si kumbang itu ya hehehe

    wis tah kalau Bli Arnaya yang bikin artikel gini pasti jagonya

    • 22/08/2012 pukul 9:17 am

      Hahahahah….kang…melati itu wis punya ku kikikik

  10. 21/08/2012 pukul 9:58 am

    hmm.. sangat indah.. 🙂
    semalam bulan sabitnya juga sangat besar..

    • 22/08/2012 pukul 9:16 am

      Apapun bentuknya yang penting aromanya kang yach heeee

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: