Bulan Sabit

Malam itu, kulihat bulan tak begitu sempurna. Sinarnya begitu lembut, membelai wajah kita dengan sentuhan damai. Sebuah pantai tak begitu ramai, dengan riak ombaknya yang  menghembuskan dingin, memaksa kita untuk saling melekatkan jemari.

Seiring dengan itu, perlahan engkau rebahkan kepalamu di dadaku yang tidak  terlalu bidang. Memandang lurus ke arah bias sinar bulan sabit, yang bermain manja di antara riak ombak di pantai itu.

Perlahan engkau tengadahkan wajah, memandangku dengan iringan senyum kecil di bibir manismu. Entah apa yang kau dan aku rasakan saat  itu, hanya satu kalimat bergolak dalam hatiku, “Ya, aku sangat menginginkan dirimu.” Kutarik nafas dalam-dalam seraya memelukmu erat, seiringi dengan bayangan sunyi di pantai itu.

Perlahan kau lepaskan pelukanku, memandangku penuh kasih. Dengan lembut engkau berkata, “Sayang, Aku sangat menyanyangi kamu.” Aku terdiam, kulihat rambut panjangmu yang tertiup angin sesekali  menutupi wajahmu. “Aku juga sayang kamu, Melati..” jawabku penuh  haru.

Sesaat kupandang bulan yang tak sempurna, bulan sabit.  Ya. Bulan sabit, ia tetap bersinar indah, di antara bintang dan deburan ombak di pantai itu, “Sungguh besar karuniaMu Tuhan, sebagai anugrah yang tak terlupakan,” bisikku sambil memeluk rapat tubuhmu.

Iklan