Tempe Di Atas Meja Makan

Seperti pedagang keliling, lelaki tua itu muncul dengan gerobak sampahnya. Di bawah bias sang fajar, dengan penuh kesabaran dia berteriak, “Sampaaah, sampaah!” Kedatangannya cukup membuat lega orang-orang yang berada di gang kecil tersebut.

Meskipun kelelahan saat menarik gerobak, namun ada pendar kebahagiaan tersendiri yang memancar dari wajah keriputnya yang ramah. “Selamat pagi bu,” demikian sapa lelaki tua itu kepada ibu-ibu rumah tangga yang membawakannya kantong sampah.

Beranjak dari gang satu ke gang yang lain, lelaki tua itu menarik gerobaknya menuju jalanan yang agak ramai. Ketika ia baru saja keluar gang, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di samping pak tua. Seorang lelaki muda dengan suara lantang berteriak dari dalam mobil.

“Hai tukang sampah! Kalau jalan, jangan sembarangan, harga mobil ini jauh lebih mahal dari gerobakmu!”

Lelaki tua itu tertegun. Kemudian keluar kata-kata halusnya, “Maaf pak, lain kali saya perhatikan.” Mobil itu berlalu pergi.

Lelaki muda itu adalah orang-orang kalangan atas, yang hanya mengulurkan tangan jika ada maunya. Mereka tidak pernah mengerti bagaimana rasanya menahan lapar, sementara tidak sepeserpun uang yang ada di saku. Bagaimana rasanya menelan air liur, saat mereka melewati sebuah warung, di mana ramai orang berduit menikmati semangkok es campur atau jus apokat sambil tertawa.

***
Sore itu, orang-orang sibuk mencari kebahagiaan di luar rumah, lelaki tua itu cukup dengan berdiam diri di rumah. Sayup-sayup terdengar suara anak-anaknya yang bermain mobil-mobilan dari kulit jeruk.

“Makan dulu Pak e,” suara istrinya lirih.

Lelaki tua itu bergegas ke meja makan. Di sana telah terhidang tempe goreng, sayur bayam dan keripik singkong. Dengan penuh nikmat, lelaki tua itu menyantap sepiring nasi dengan tempe goreng buatan istrinya.

Ia membayangkan, bagaimana suatu saat nanti tempe bukan saja makanan orang-orang miskin, namun mampu bersaing dengan Kentucky Fried Chicken atau Spaghetti yang menjadi makanan orang-orang berduit.

Iklan