Skip to content

Mahar Cinta Untuk Fitri

04/06/2012

Matahari di langit kota kecil ujung barat pulau Dewata begitu terik. Fadhil duduk gelisah di sebuah bengkel. Dua puluh menit ia duduk di bengkel tersebut, menunggu giliran ban sepeda motornya untuk ditambal. Sesekali ia melirik arloji di tangan kirinya, “Semoga aku tidak terlambat,” bisiknya.

Siang itu adalah hari yang paling berat dirasakan Fadhil. Fitri, gadis manis teman sekampungnya akan pergi mengikuti orang tuanya yang tugas di Jakarta. Setelah selesai membayar ongkos tambal ban, Fadhil menggeber sepeda motornya menuju rumah tempat  Fitri tinggal.

Lima belas menit perjalanan, Fadhil pun tiba. Tapi, apa yang terjadi tidak seperti yang direncanakan. Rumah yang ditempati Fitri dan neneknya begitu lengang, hanya ada seorang wanita paruh baya sedang merapikan kursi-kursi.

“Permisi bik, Fitrinya ada?” sapa Fadhil kepada wanita itu.

“Maaf, anak siapa?” balas wanita itu dengan lembut.

“Saya temannya, Fitri ada bik?” kembali Fadhil mengulang pertanyaannya.

“Walah…non Fitri udah berangkat ke bandara nak,” jawab wanita tersebut.

“Sudah tadi bik?” tanya Fadhil kembali.

“Kira-kira lima belas menit yang lalu nak!, Fitri pergi bersama orang tuanya,” jelas wanita paruh baya itu, yang tidak lain adalah pembantu rumah neneknya Fitri.

Fadhil tertegun, wanita pembantu rumah itu pun tertegun. Sejenak ia terdiam, lalu serangkai kata-kata halusnya pun keluar.

“Nak, bukan maksud bibik mengusir, tapi bibik belum menyelesaikan pekerjaan, bibik mau ngelanjutin kerja dulu ya?”

Fadhil berpikir sejenak. Lalu ia mengangguk-angguk sambil tersenyum luruh. “Baiklah…terima kasih banyak bik ya, saya permisi dulu, selamat siang.”

***

Enam bulan sudah Fitri tinggal di Jakarta. Kehidupan kota Jakarta tidak lantas membuat ia lupa akan sahabat-sahabat di kampung, tempat ia tinggal bersama neneknya. Melalui jejaring sosial seperti facebook, Fitri sering melepas kangen kepada sahabatnya di Jembrana-Bali.

“Fitri…!” suara ibunya nyaring, persis ketika Fitri membuka pintu kamarnya. “Tadi pagi, ketika kamu latihan musik, ada pak pos mengantarkan  paket dari Bali, mama letakkan di atas meja belajarmu!”

“O, ya? terima kasih ma!” Fitri bergegas masuk ke dalam kamar. Dilihatnya sebuah paket terbungkus kertas coklat di atas meja belajar. Fitri segera mengambil paket tersebut dan membaca siapa pengirimnya. “Fadhil?” bisik Fitri lirih. Dan ia tersenyum, ketika bungkusan itu dibuka, ada sepucuk surat dengan tulisan tangan.

Fitri, maafkan jika aku terlalu lancang. Aku sedikit ragu, apakah yang aku tulis ini sebuah ungkapan hati atau sebuah pembenaran? Yang aku tahu, kalau alam bawah sadarku berdengung hingga aku menuliskan surat ini. Berulang kali aku menahannya, namun tetap saja aku gagal. Karena perasaan itu datang begitu cepat, secepat air hujan jatuh ke bumi.

Aku juga tidak tahu, apakah  Idul Fitri nanti, kamu pulang kampung atau tidak. Perkenankanlah aku memberikan hadiah yang belum pernah aku berikan kepada orang lain. Bukan baju baru atau pehiasan, Fitri…terimalah mukena sederhana ini untuk kamu kenakan saat sholat Idul Fitri nanti.

Fadhil.

Fitri mendekap surat dan mukena yang dikirim Fadhil. “Terima kasih Fadhil, aku akan memakai mukena ini. Tunggulah aku dengan perasaanmu hari ini, ” bisik Fitri.

23 Komentar leave one →
  1. 10/06/2012 11:12 am

    Seperangkat alat ibadah selalu jadi kado terindah, Bli Budi…saya sependapat🙂

    • 13/06/2012 7:46 pm

      Mungkin akan menjadi hal yang lebih berharga untuk merekatkan ya mbak heeee…hanya sekedar ide bagi yang lagi jatuh cinta apa namanya heeee

  2. 07/06/2012 8:35 am

    lama tak bersua🙂
    Bergetar aku bacanya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: