Elegi Matahari

Wajah matahari terkantuk-kantuk menuju sudut barat. Perlahan cahayanya redup melintasi genangan air yang berdebur di antara batu karang. Kupandangi orang-orang di sekitarku. Mereka sealiran denganku. Pemuja senja di bibir pantai.

Pandanganku tak sepenuhnya tertuju pada senyum ceria pasangan muda-mudi itu. Sesekali, aku mencuri pandang ke arah matahari yang semakin lelah. Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan. “Matahari, hari ini engkau bekerja dengan baik, engkau pasti lelah dan tak sabar untuk tidur,” bisikku.

“Kamu salah saudaraku, matahari tidak pernah tidur, ia tidak pernah lelah apalagi mengantuk. Ia sengaja melihatkan sisi lain dari dirinya untuk engkau kagumi,” kata hatiku

“Lalu, mengapa matahari hendak sembunyi di peraduannya?”  tanyaku.

“Matahari  tidak bersembunyi, ia tetap terjaga. Meskipun waktu telah berubah menjadi sebutan malam, matahari tetap menanamkan hal yang terbaik. Matahari selalu menitipkan pesan, lewat pendar bintang maupun bias rembulan. Agar kamu dapat menikmatinya pada waktu yang berbeda,” ujar hatiku.

Iklan