“Kartini”

Malam yang tak pernah hening di kawasan wisata Kuta-Bali, membungkus nyanyian binatang malam dengan alunan musik dan deburan ombak. Kartini, wanita Bali yang perprofesi sebagai quide, duduk melepas lelah pada sudut ruang tamu hotel di kawasan Kuta. Sambil menguap kecil, ia melirik arloji di tangan kirinya, “Setengah dua pagi,” bisiknya.

Kartini terkesiap. Ketika seorang pemuda menghampiri dan menegurnya. “Malam mbak, lagi sendirian ya?” “Malam mas, ia, lagi nunggu jemputan suami,” jawab Kartini kepada pemuda itu, yang ternyata tamu domestik di hotel tersebut.

“Memang, mbak udah bersuami?” goda pemuda itu.

“Udah kok mas, malah anak saya udah dua loh?” jawab Kartini dengan sedikit senyuman.

“Wah..yang bener mbak! Kok masih cantik, seperti masih gadis saja?” rayu pemuda itu.

Kartini menggeleng perlahan mendengar rayuan pemuda ini. Ia berusaha untuk bersikap baik dan profesional. “Wanita kan memang cantik mas, O..ia, gimana kesan Anda setelah tiba di Bali?” tanya Kartini mengalihkan pembicaraan.

“Bali is beautiful, apalagi gadis balinya cantik-cantik seperti mbak,” jawab pemuda itu masih tetap dengan rayuannya.

Kartini tersenyum. Ia sadar harus segera mengakhiri pembicaraan yang tidak perlu. “Mas ini bisa aja, saya permisi dulu mas, suami saya sudah datang, selamat malam.” Kartini bergegas meninggalkan pemuda tersebut di ruang tamu hotel.

Pemuda itu masih penasaran. Ia berusahan mengikuti Kartini, sambil terus menggodanya, “Mbak! bener ya, udah punya suami?”

Kartini menghentikan langkahnya. “Mas, wanita itu akan semakin cantik, jika ia tidak berbohong dan tidak menghianati keluarga serta suaminya. Itu suami saya!” jawab Kartini sambil menunjuk seorang laki-laki yang berdiri di parkiran hotel.

Kartini melambaikan tangannya dan bergegas menuju suaminya.  Sementara pemuda tersebut tercengang dengan ucapan Kartini. Niat nano-nano di dalam otaknya sirna seketika.

Iklan