Enam Purnama

Tetes demi tetes air membulir di pipi Bintang, disambung dengan isakan tertahan ketika ia memandang kemeja suaminya yang tergantung manis di dalam almari. “Aku merindukan bau keringatmu ketika pulang kerja. Aku merindukanmu, bisik Bintang.”

Tiga purnama. Bintang merasakan kepedihan luar biasa. Irama hidupnya berubah, ia merasa pincang tanpa kehadiran suami tercinta. Purnama yang terlewati tanpa dekapan sang suami, menyadarkan Bintang betapa berarti papa Riza dalam kehidupannya.

“Aku telah memperbaiki atap rumah yang bocor, dinding yang retak, taman yang tidak terurus, perabotan yang kusam. Aku juga menanam bunga, untuk mempercantik rumah kita di Surabaya yang protes berat karena jarang kita sentuh. Cepatlah pulang mas..aku sudah rindu!”

Begitu email yang dikirim Bintang kepada suaminya beberapa waktu lalu, yang sedang mengikuti pendidikan Lemhannas di Jakarta. Dan dijawab singkat oleh suaminya, “Tunggulah aku dengan cintamu sayang.”

Enam purnama. Telah sampai batas penantian Bintang. Resah. Gelisah, ia menunggu di gerbang kedatangan domestik bandara Juanda. Matanya berbinar menyapu wajah-wajah penumpang di lorong itu. Sesaat pandangannya tertahan kepada sosok lelaki yang ia kenal, “Mas Budi!”  Bisiknya tertahan.

Laki-laki itu mendekati Riza yang berdiri di samping Bintang. Pelukan penuh rindu tak terelakkan lagi di antara anak dan bapak. Bintang terpaku dan memandangnya terharu, ia menangis dalam senyuman.

Sesaat kemudian lelaki itu berjalan mendekati Bintang, lalu memeluknya dengan penuh kehangatan. “Terima kasih sayang, engkau telah menanam pohon cinta yang berdaun kesetiaan, berbunga ketulusan dan berakar kejujuran. Mengenalmu adalah anugrah dan mendampingi hidupmu adalah suatu kebahagiaan,” bisik lelaki itu yang diakhiri dengan kecupan mesra di kening Bintang.

Cerita ini terinspirasi dari kisah seorang Ibu di sini

Iklan