Dua Minggu Tiga Hari

Fajar yang merekah bersama angin sepoi, begitu gembira menyambut sang cahaya, namun tidak demikian dengan pemilik rumah ini. Tangan siang hari yang perkasa terbentang di atas kota. Mata yang penat dan wajah-wajah lesu para pedagang asongan, tak membuat jemari menari. Begitu juga dengan dinginnya malam, tak mampu membuat ia bergetar. Ia tetap terlelap bersama waktu. Hiatus!

Usai kubenamkan tubuh penatku di ranjang dengan selimut loreng, aku akan membuat bagian tubuh ini berkontraksi hingga darahku menari salsa, ber haha.. hihi dengan berkunjung ke blog sahabat semuanya.

β€œHai kawan yang ada di sana! Bagaimana kabarmu! Tentu lebih baik dari kemarin bukan? Sahabat tahu ngak, beda narkotika dengan kalian? Jika narkotika membuatku kecanduan, teler dan akhirnya mati, namun sahabat telah melahirkan dunia baru dalam hatiku, yang tidak akan muncul tanpa kehadirinmu.”

Dua minggu tiga hari. Waktu adalah kehidupan itu sendiri. Menjalaninya membuat aku yakin bahwa waktu yang telah menghentikan kita dan waktu jugalah yang membuat kita berjalan kembali. Aku sadar, kalau hidup itu penuh dengan penderitaan. Namun aku masih yakin kalau hidup juga penuh dengan keberhasilan, jadi mari kita nikmati dengan cerita masing-masing.

Iklan