Skip to content

Angin Pengejar Matahari

22/03/2012

Orang-orang berhamburan, ketika kereta kelas ekonomi itu tiba di stasiun Karet. Angin yang sedari tadi asik dengan koran lusuhnya bergegas berdiri. “Ah..akhirnya kamu tiba sayang, meskipun kamu berbau terasi, namun tetap tidak ada pilihan bagi diriku untuk menaikimu,” batin Angin yang bergegas berlari menuju kerumunan orang-orang.

Sungguh perjuangan berat, memiliki tubuh mungil seperti Angin untuk lolos dari himpitan beberapa lelaki. Begitu masuk ke dalam kereta, Angin bernafas lega. Tangannya mendekap tas gendong di depan dada. Ia tidak mau mengambil resiko, jika ada tangan-tangan jahil berhasil merogoh dompetnya yang hanya berisi dua lembar uang seratus ribu.

“Sampai kapan transportasi di Jakarta akan begini terus!” omel seorang pemuda berambut gondong dengan tatto di tangannya. Asap rokok yang keluar dari mulut dan rongga hidungnya mengharuskan Angin untuk menutup hidung sesaat. Mata Angin bergrilya, ia mencari tempat duduk yang kosong. Namun harapannya pupus, tak seorangpun yang rela menyerahkan tempat duduknya. Semua egois dengan kepentingan masing-masing, bahkan untuk wanita sekalipun. “Ini Jakarta Non! siapa yang peduli sama lo,”gerutu Angin.

“Mbak, ini ada tempat duduk kosong, duduk di sini mbak!” seorang laki-laki paruh baya menawarkannya kepada Angin.

“Terima kasih, Pak!” ujar Angin, tersenyum manis. Bapak itu mengangguk ramah.

“Mau ke mana, Mbak?” tanya si Bapak dengan penuh perhatian.

“Kranji, Pak!”

“Ah, jauh sekali. Memangnya Mbak kerja di mana?”

“Saya kerjanya di Sudirman, Pak!”

“Kenapa kamu tidak kost saja? kan lebih aman, dari pada kamu pulang malam seperti sekarang ini. Apa tidak capek?”

“Capek pastilah Pak, tapi gaji saya tidak cukup jika harus kost segala. Mending saya berangkat dari rumah, lumayan bisa makan gratis, Pak!”

Sebenarnya Angin bisa saja untuk kost. Demi mewujudkan mimpi mengejar Matahari, yang akan dipersembahkan kepada kedua orang tuanya, mengharuskan ia rela bolak-balik tersenyum dalam kereta kelas ekonomi jurusan Karet-Kranji.

Peluh deras yang membasahi tubuhnya, membuat nafas Angin berangsur normal. Kelopak matanya sudah tidak sanggup ia topang. Lelah. Letih bercampur menjadi satu hingga ia terkulai lemas dalam tidur.  Sayang nikmat tidurnya harus terhenti ketika seseorang menyentuh bahunya dan berkata, “Mbak, bangun, kita sudah tiba di Kranji.” Angin kaget, dipandanginya satu persatu orang yang turun di stasiun Kranji. Iapun bergegas turun.

“Mbak, tunggu, Ini tasnya ketinggalan!” teriak Pak Tua.

“Astaga! Tas aku,” bisik Angin. Iapun menoleh ke arah suara Pak Tua. “Terima kasih banyak pak ya?” ucap Angin sambil mengambil tas gendongnya. “Sama-sama, Mbak,” balas Pak Tua.

Angin begitu kagum dengan kebaikan Pak Tua. Di Bekasi yang penuh dengan kemunafikan masih ada beberapa orang yang mempunyai hati mulia seperti Pak Tua.

“Mbak, hari belum terlalu malam, bagaimana kalau kita makan dulu? Habis itu kita nonton, nanti bapak antar kamu pulang,” ajak Pak Tua.

Pandangan mata Pak Tua mulai aneh. Tidak ada lagi sifat kebapaannya. Matanya liar. Bibirnya menyeringai seperti kebanyakan laki-laki hidung belang. Dan, Astaga, mata kiri Pak Tua berkedip genit. Perasaan Angin mulai tidak karuan, dirogohnya hand phone jadul dari dalam tas. Iapun menekan beberapa angka. Untuk beberapa detik ia terdiam, hingga akhirnya ia berkata, “Halo Om, Angin dah sampai nich, Om dimana? Masih di Polsek? Cepetan deh Om, Angin udah ngantuk.” Iapun menutup hand phonenya. Pak Tua yang mendengar percakapan Angin berlalu pergi.  “Dasar!, tua-tua keladi, mau aja dibohongi,” bisik Angin.

Angin menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Matanya melirik arloji di tangan kiri, hadiah ulang tahun dari mamanya. “Mmm..sudah jam sebelas malam. Matahari, malam ini kamu istirahatlah dengan manis, besok sebelum kamu terjaga, aku sudah mengejarmu,” celoteh Angin berlalu menuju pangkalan ojek langganannya.

24 Komentar leave one →
  1. 24/03/2012 12:31 pm

    Ini hasil wawancara dengan salah satu blogger juga mbak..ada kok orangnya di sini heeee, Jakarta mbak

  2. 24/03/2012 12:15 pm

    stasiun karet daerah mana pak? jakarta? oops ini kan cuma ceritanya hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: