Tuhan Tidak Pernah Salah

Aku memang berbeda dari teman-temanku. Dari luar fisikku normal, namun sesungguhnya aku tidak bisa mendengar kata-kata mereka, bahkan tidak mampu memanggil nama Ayahku. Tunarungu. Ya sebagian orang menyebutkan kami demikian, tapi sebagian lain memanggil kami si bisu tak mendengar. Tunarungu atau apapun itu, suatu hambatan kamu tidak dapat berbicara atau mendengar.

Kedua orang tuaku tidak pernah memandang aku rendah. Terbukti dengan mereka menyekolahkan aku di Sekolah Luar Biasa tingkat B. Sekolah khusus bagi kami penderita tunarungu. Di sekolah itu, aku memahami kalau hidup dengan predikat tunarungu memerlukan kepekaan yang luar biasa. Aku harus peka terhadap gerakan mulut orang normal yang aku ajak bicara. Aku harus mempermudah isyaratku hingga mereka mengerti maksudku. Hal ini pulalah yang mewajibkan aku untuk membawa buku kecil dan menggantungkan pena di leherku.

Cukup ribet memang, namun harus aku lakukan. Karena dengan cara itulah aku bisa mempermudah bicara dengan orang lain sehingga mereka mengerti. Jika ada yang belum mengerti gerakan tanganku, aku tinggal menuliskannya. Ideku ini ternyata diikuti oleh beberapa teman-temanku.

***

Setiap pembagian raport adalah hal yang paling menggembirakan bagi diriku. Aku selalu tampil di depan kelas sebagai rangking pertama. Ini membuat orang tuaku bangga sekaligus menjadikanku idola di kelas. Sebagai idola tentu menjadi perhatian, termasuk perhatian dari beberapa wanita. Meskipun fisikku tidak normal, namun naluri dan perasaanku sebagai laki-laki tidak cacat. Cinta. Iya…aku merasakan perasaan itu. Gadis manis teman kelasku, telah mengenalkanku pada alam cinta monyet.

Kami tak mampu mengucapkan kata “I Love You,”  namun hati kami mengatakan kalau kami saling mencintai. Bahasa isyarat yang kami dapatkan di sekolah, telah menjebatani hubungan kami tetap harmonis, tanpa ada caci maki.

Kelulusan tidak menjadi halangan bagi kami untuk tetap merajut cinta. Setelah tamat sekolah, permata hatiku membantu orang tuanya membuka warung kecil-kecilan, sementara aku meneruskan warisan keluarga kami sebagai tukang ukir kayu.

Setahun setelah kelulusan, kami memberanikan diri untuk menjadi pasangan suami istri tunarungu. Meskipun aku tidak mendengar orang-orang mempermasalahkan hubungan kami, namu aku mengerti, kalau mereka geli dengan pernikahan kami. Kami percaya, kelahiran serta hubungan kami adalah anugrah Tuhan yang penuh dengan tujuan.

Karunia Tuhan sungguh luar biasa. Setahun menikah, istriku mengandung dan melahirkan malaikat kecil, buah cinta kami. Butiran mutiara tak sanggup kami bendung, ketika ia menangis kencang dan kami tak mampu mendengar tangisnya.

Komunikasi yang tidak biasa, memaksa kami memohon bantuan orang tuaku untuk mengajarkan buah hati kami, agar mampu seperti orang normal. Kegigihan orang tua dan saudara-saudaraku dalam membimbing anakku sungguh luar biasa. Mereka memperlakukannya dengan penuh kasih, penuh cinta, sehingga dalam sepuluh bulan anak kami mampu mengucapkan “Ba..ba..bapak.”

Meskipun aku tidak mendengar, namun isyarat orang tuaku menjelaskan kalau anak kami berkata “Bapak.” Hatiku perih sekaligus bahagia. Perih karena tidak mendengarkannya, bahagia karena ia berbeda dengan diri kami. “Tuhan terima kasih atas segala kemurahanMU, terima kasih atas karuniaMU, Engkau memberikan hidup yang berbeda dengan kami, namun tidak demikian dengan anak kami,” doaku dalam hati.

Iklan