Beranda > Flash Fiction > Karma Pala

Karma Pala

Bulan itu belum tidur, ia ditemani oleh bintang yang berpendar. Keindahan lampu alam membuat dirinya lupa kalau ia alergi dengan dingin. Menggigil. Mengerang dalam selimut kemewahan. Ambisi berbalut emosi mengantarkannya kepada keserakahan. Melupakan cinta meninggalkan sayang.

Saat itu, ia menikamku dari belakang. Tak ada yang aku lakukan selain bersahabat dengan ikhlas. Dan ketika ia terbaring lemah di atas ranjang mewah karatan, akupun sadar, kalau aku masih sehat. Masih mampu untuk bangun pagi, dan masih mampu untuk kerja keras. Mungkin pula itu adalah sebuah ketentuan alam.

Iklan
  1. 21/03/2012 pukul 8:42 am

    Entah dengan suatu cara apa, karma pasti kembali ya Bli..Seperti boomerang yang di lempar pasti kembali kepada pelemparnya 🙂

  2. 19/03/2012 pukul 8:09 am

    haha, kecelek saya. kirain mau bahas drama kolosal yang judulnya karmapala itu.. hahaha

    • 19/03/2012 pukul 6:06 pm

      Heee kalau drama kolosal itu ngak ah…itu karya orang-orang tenar heeee

  3. budiastaw
    18/03/2012 pukul 6:08 pm

    Siapa yang menanam, dia yang memetik. Buah dari baik buruknya perbuatan.

    • 19/03/2012 pukul 6:04 pm

      hohoho datang dengan senyum baru browwww

  4. lozz akbar
    18/03/2012 pukul 5:19 pm

    saya mampir nih Bli tapi gak kliatan bulannya. apa karena masih sore ya 🙂

    • 19/03/2012 pukul 6:03 pm

      hahahaha karena bulan itu ada dalam baskom sich heee

  5. 18/03/2012 pukul 3:54 pm

    lebih banyak bersyukur atas nikmat sehatu yang diterima

    • 19/03/2012 pukul 6:02 pm

      Jika tidak mengenal bersyukur, kemungkinan ia akan selalu angkung mbak yach

  6. 18/03/2012 pukul 11:25 am

    Perbuatan baik yang kita lakukan dengan kedalaman hati -walau di saat kita sedang tidak diperlakukan baik, pasti selalu berbalas kebaikan dalam bentuk yang tak pernah kita ketahui sebelumnya… Itulah hukum alam semesta yang kita yakini…
    thanks sharingnya..

  7. Tina Latief
    18/03/2012 pukul 10:11 am

    syukur masih bisa komen di sini ya bli…

  8. Ely Meyer
    18/03/2012 pukul 1:26 am

    sehat adalah anugerah yg tak ternilai harganya ya bli 🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: