Karma Pala

Bulan itu belum tidur, ia ditemani oleh bintang yang berpendar. Keindahan lampu alam membuat dirinya lupa kalau ia alergi dengan dingin. Menggigil. Mengerang dalam selimut kemewahan. Ambisi berbalut emosi mengantarkannya kepada keserakahan. Melupakan cinta meninggalkan sayang.

Saat itu, ia menikamku dari belakang. Tak ada yang aku lakukan selain bersahabat dengan ikhlas. Dan ketika ia terbaring lemah di atas ranjang mewah karatan, akupun sadar, kalau aku masih sehat. Masih mampu untuk bangun pagi, dan masih mampu untuk kerja keras. Mungkin pula itu adalah sebuah ketentuan alam.

Iklan