Beranda > Cerita Anak > Hore, Aku Sekolah Lagi!

Hore, Aku Sekolah Lagi!

Namaku Sinta. Aku duduk di bangku kelas IV SD. Aku dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahku bekerja sebagai kuli panggul di pasar, sementara ibuku menjadi tukang cuci pakaian. Meskipun demikian, teman-teman tidak pernah menghinaku. Mendapat peringkat lima besar di kelas, membuat mereka selalu memujiku.

Sudah tiga hari aku tidak sekolah. Aku harus menjaga adikku yang sakit. Kami tidak mempunyai biaya untuk ke dokter, dan kami hanya mengandalkan obat warung untuk penyembuhannya. Sementara ayah dan ibu mencari nafkah buat kami. Rasa kangen dengan teman-teman sekolahku, sering kali membuat mataku berkaca-kaca. Dalam doa malamku, aku memohon kepada Tuhan, agar kami diberikan kemudahan.

“Permisi!” suara itu membuatku kaget. Suaranya tidak asing di telingaku, akupun bergegas ke teras depan menemuinya. “Eh… ibu Wangi, selamat sore bu,” sapaku kepada wali kelasku. Akupun mengajaknya masuk ke dalam rumah.

“Ayah dan ibumu mana Sinta?” tanya ibu Wangi dengan lembut. “Mereka belum pulang bu,” sahutku datar sambil tersenyum. “Oh…terus kamu dengan siapa di rumah?” tanya ibu wangi lagi. “Sinta berdua dengan adikku bu, tapi dia sekarang lagi sakit di kamar,” jelasku kepada ibu Wangi. “Sakit? Sakit apa?” kata ibu Wangi sedikit kaget.

Akupun menjelaskan semuanya kepada ibu Wangi, hingga aku tidak sekolah. “Sinta, kenapa kamu tidak lapor dari awal ke ibu? Ibu kan bisa membantumu sayang. Ya sudah, sekarang kita ke dokter dulu antar adikmu berobat, masalah biaya itu urusan ibu nanti,” ajak ibu Wangi. Aku hanya mengangguk perlahan.

Pulang dari dokter, ayah dan ibu belum juga pulang. Aku dan ibu Wangi duduk di ruang tengah, sementara adikku tertidur lelap setelah meminum obat. “Sinta, di sekolah kita ada program orang tua asuh, nah ibu akan menjadi orang tua asuhmu. Segala biaya sekolahmu ibu yang nanggung, untuk itu besok kamu sekolah lagi ya?” terang ibu wangi tersenyum manis. “Hore aku bisa sekolah lagi!, teriakku gembira. “Masalah adikmu, nanti ibu bicarakan dengan ayah dan ibumu ya?” jelas ibu Wangi sambil mengelus kepalaku.

Tidak lama ayah dan ibu datang. “Eh…ada tamu, sudah tadi bu?” ibuku menyapa wali kelasku. “Lumayan bu, sudah dua gelas Sinta membuatkan saya teh,” jawab ibu wangi mencubit tanganku sambil tersenyum. Akupun menjelaskan kepada ayah dan ibu maksud kedatangan ibu Wangi.

“Bu Wangi, kami mengucapkan terima kasih atas kerendahan hati ibu. Ibu begitu baik kepada kami. “Sudahlah bu, sudah kewajiban kita saling tolong menolong bukan?, lagi pula Sinta itu anak yang cerdas, sayang kalau berhenti sekolah. Masalah adiknya kita bisa rawat jalan,” jelas ibu Wangi kepada ibuku.

Ayah memandangku, ada genangan air di matanya, “Sinta sini nak! Kamu bisa tetap sekolah nak. Mulai sekarang ayah dan ibu akan berusaha keras lagi untuk mencari uang, agar kamu bisa semangat sekolah. Mataku berkaca-kaca gembira, akupun memeluk kedua orang tuaku, “Tuhan, terima kasih, Engkau telah memudahkan jalanku untuk sekolah,” ucapku.

Iklan
  1. mumazzad
    31/05/2012 pukul 11:44 am

    baik banget yah……..

  2. 19/03/2012 pukul 7:56 am

    waah.. baik hati banget bu guru wangi.. 😀

    • 19/03/2012 pukul 6:06 pm

      Heee menunggu amel untuk baik hati kepada saya heee

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: