Menanti Kehamilan Kedua

Tidak jarang seorang istri sukses pada hamil pertama, kesulitan untuk hamil kedua. Istri saya pernah mengalami hal tersebut. Resah. Gelisah. Bahkan sedikit stress. Bukan waktu yang singkat menghabiskan dua tahun tanpa alat kontrasepsi dan belum membuahkan hasil. Sementara anak kami sudah berumur 5 tahun. Belum lagi dia bilang, “Ma,pa, Tya kepingin punya adek.” Plakk. Seperti tertampar rasanya.

Saat senggang saya selalu komunikasi dengan istri, “Gimana ma? udah ada tanda-tanda hamil?” Istri saya hanya menjawab singkat, “Belum pa, sabar yach?” Ah..sampai kapan aku harus bersabar, sampai kapan aku menanti kehamilannya yang kedua?

Konsultasi ke dokter sudah kami lakukan. Hasilnyapun baik-baik saja, dalam artian tidak ada masalah. Sperma saya tidak loyo, dia lincah. Motilitasinya (gerak sperma) bagus. Hal ini disebakan karena saya rutin berolahraga. Bahkan kesempatan berhubungan intim tidak pernah saya abaikan, namun demikian hasilnya masih nihil.

Hal inilah yang membuat saya berasumsi sendiri, mungkinkah kami mengalami infertilitas sekunder atau gangguan kesuburan untuk bisa hamil yang kedua? Tidakkah ada formula tentang cara cepat hamil? Apakah ini dampak dari menggunakan alat kontrasepsi terlalu lama?

Setiap hari istri saya berdoa. Memohon kepada Yang Maha Pemurah untuk dikarunia anak. Hal ini membuat saya bersemangat untuk terus berusaha mencari cara cepat hamil. Akhirnya alternatif keduapun saya lakukan. Mencari dukun beranak. Dukun beranak yang saya cari bukanlah dukun beranak sembarangan, ia telah mendapat sertifikat dari pihak rumah sakit untuk membantu proses persalinan.

Nenek dukun mengatakan, kalau rahim istri saya jauh ke dalam, jadi harus terapi pijat. Demi proses cara cepat hamil, kami mengikuti terapi pijat yang dilakukan oleh nenek tersebut. Dua minggu kami melakukan terapi. Memasuki minggu ketiga, istri saya menunjukkan gejala-gejala hamil. Mual. Muntah-muntah. Bahkan sesekali dia berlaku manja minta dipijitin.

Untuk memastikannya, kami membeli alat test kehamilan/test pack, dan melakukan pengetesan. Hasilnya sangat menggembirakan, strip merahnya muncul dua, pertanda positif. Kamipun melakukan ritual keagamaan sebagai ucapan terima kasih dan bersyukur kepada Tuhan.

Perlu diketahui juga, selama tiga hari saya berdiri di depan cermin, berlagak seperti binaragawan dan berkata, “ Iyes, ternyata saya laki-laki tulen dan perkasa.” 😆

Catatan : Kini anak kami yang kedua telah sekolah TK

Pengalaman ini saya ikutkan dalam giveaway kecil-kecilan, yang diselenggarakan oleh Blognya Mama Rani

Iklan