Beranda > Flash Fiction > Keripik Pedas Untuk Pemuda

Keripik Pedas Untuk Pemuda

Senja tiba berselimut sunyi, suryapun mulai naik ke peraduan meninggalkan bias cahaya yang mempesona. Saat kota mulai dibisingkan dengan deru kendaraan, di ruangan putih itu terjadi keheningan. Benar-benar sepi. Mencekam. Semua tertunduk menatap ubin putih yang mengkilap. Hanya sesekali terdengar suara berdenyit dari peralatan medis. Gadis itu masih terdiam di sana. Membisu begitu saja.

Pada saat itu. Di balik pintu kaca, seorang pencinta memandang lurus pada ruang itu. Tak bergeming. Dengan suaranya yang tersayat dan tersedat ia berseru, “Wahai Sang Maha Pengasih, demi cinta yang Engkau berikan, selamatkanlah kekasih hatiku dari cengkraman mautMu. Tiada lagi yang dapat kuperbuat selain memohon kepadaMu.”

“Jika Engkau berkehendak, apa yang tidak mungkin? Berilah secangkir berkahMu, aku mohon kepadaMu, kabulkanlah doaku.” Pemuda itu memejam. Ada air mata yang merembes. Membasah pipinya.

Pintu ruangan terbuka perlahan. Pemuda itu melangkah masuk dan berdiri di bibir ranjang. Tangannya meraih lentik jemari sang kekasih. Sementara itu beberapa pasang mata menatapnya terdiam. Membisu. Tak ada kata, barang sekedar berucap salam.

Dari mata kristalnya ada ketakukan. Kecemasan. Sekaligus harapan. “Oh Yang Maha Pemurah, aku mencintai gadis ini. Selamatkanlah dia. Biarkan kami merajut kasih di musim panas nanti. Biarkan kami bercumbu hingga melahirkan benih-benih cinta,” rintih lirih sang pemuda.

Pemuda itu membungkuk perlahan, dengan bibir yang bergetar, ia mencium kening gadis itu berkali-kali. Memberikan segenap harapan, menyanyikan tebang-tembang kehidupan. Gadis itu tak bergeming.

Sayup-sayup suara denyit itu berhenti. Sang pemuda memeluk gadis itu. Mengguncangkan tubuhnya. Namun si gadis telah kaku. Dingin. Sedingin salju abadi Fujiyama. Pemuda itu meraung. Merobek celah-celah senja.

***

Empat bulan telah berlalu. Butiran padi pada ladang telah dimatangkan oleh hangatnya matahari. Sekawanan burung terlihat menikmati hasil kerja keras petani, hingga mentari menyusut dan bersembunyi di balik taman. Pemuda itu masih duduk bersimpuh di depan batu nisan, menikmati perubahan siang menjadi malam.

Dalam balutan sunyi, pemuda itu memandang lurus ke arah tulisan pada batu nisan yang kian lusuh. “Kekasihku, hal terberat yang aku rasakan ketika aku kehilangamu adalah saat aku kehilangan cinta abadiku.” keluh sang pemuda setelah terdiam beberapa saat.

Pemuda itu memejamkan matanya yang berkaca-kaca dan menadahkan kedua tangannya ke atas, “Oh Yang Maha Pemurah, jika kami belum dipersatukan dalam kehidupan ini, persatukan kami dikehidupan yang akan datang, jangan putuskan siklus hidup kami. Berikanlah ia ketenangan dan berikanlah kekuatan kepada kami yang ditinggalkannya, untuk melanjutkan cerita kehidupan ini.”

“Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:. “.

Kategori:Flash Fiction Tag:, ,
  1. 09/03/2012 pukul 2:07 am

    Semoga dapat merasakan nikmatnya kripik pedas

    sukses buat GAnya dan terus bergairah

  2. 08/03/2012 pukul 8:52 pm

    kripik pedas itu apa berarti cobaan berat kehilangan kekasih ?

    • 08/03/2012 pukul 9:41 pm

      Yups, bener mbak, itu hanya ilustrasi, ayo mbak ramekan acaranya, biar seru, dan tuan rumahnya biar bergairah

  3. 'Ne
    08/03/2012 pukul 8:35 pm

    wah udah ikutan GAnya mba tt ya.. saya udah bikin Bli, tinggal posting aja..
    mudah2an belum terlambat hehe..

    sukses ya Bli dengan keripik pedasnya 😀

    • 08/03/2012 pukul 9:39 pm

      Ayo ne, ramekan hajatannya, biar tambah seru, pasti asyik

  4. 08/03/2012 pukul 3:36 pm

    kelak, di kehidupan yg baru sana, semoga bisa berkumpul kmbali dengan orang2 dicintai.. 😀 😀

  5. 08/03/2012 pukul 11:52 am

    bagus sekali ceritanya..ajarin nulisnya Bli.. 🙂
    Smg Sukses ikutan kontes.

    • 08/03/2012 pukul 5:08 pm

      hahahaha saya juga masih belajar blitu

  6. 08/03/2012 pukul 9:50 am

    Wah ada event FF, ikut ahhhhhh…

    • 08/03/2012 pukul 5:08 pm

      Suhunya telah hadir…kalau suhunya pasti oke punya heeee

  7. 08/03/2012 pukul 9:21 am

    Aku kok masih gak paham keripik pedasnya ya… :-s

    • 08/03/2012 pukul 5:07 pm

      Mau kripik singkong atau apa? tinggal dibumbui dan adukan lombok, jadi pedas heeee

  8. 08/03/2012 pukul 8:52 am

    aku masih gak ngerti kenapa judulnay keripik pedas untuk pemuda..
    mana hubungannay ama keripik pedas

    • 08/03/2012 pukul 5:06 pm

      Kalau nyari kripik pedas beneran di warungnya melati yach ada banyak 😆

  9. 08/03/2012 pukul 8:50 am

    emang salju fujiyama dingin,,kaya udah pernah kesana aja.. 😛
    kenapa cerita fiksinya selalu tentang kematian…
    bikin yang happy ending kenapa

    • 08/03/2012 pukul 5:05 pm

      kwkwkwkwkwwk mati dulu nanti baru lahir kembali, 😆

  10. 08/03/2012 pukul 6:04 am

    Salam kenal, bli 🙂
    aih, bli ini pandai juga membuat flash fiction.
    sukses GAnya ya bli.

    ikutan GA di blog saya juga dong 😀

    • 08/03/2012 pukul 5:05 pm

      Heeee Ikutan juga ah…di tempat saudari jauh

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: