Skip to content

Keripik Pedas Untuk Pemuda

08/03/2012

Senja tiba berselimut sunyi, suryapun mulai naik ke peraduan meninggalkan bias cahaya yang mempesona. Saat kota mulai dibisingkan dengan deru kendaraan, di ruangan putih itu terjadi keheningan. Benar-benar sepi. Mencekam. Semua tertunduk menatap ubin putih yang mengkilap. Hanya sesekali terdengar suara berdenyit dari peralatan medis. Gadis itu masih terdiam di sana. Membisu begitu saja.

Pada saat itu. Di balik pintu kaca, seorang pencinta memandang lurus pada ruang itu. Tak bergeming. Dengan suaranya yang tersayat dan tersedat ia berseru, “Wahai Sang Maha Pengasih, demi cinta yang Engkau berikan, selamatkanlah kekasih hatiku dari cengkraman mautMu. Tiada lagi yang dapat kuperbuat selain memohon kepadaMu.”

“Jika Engkau berkehendak, apa yang tidak mungkin? Berilah secangkir berkahMu, aku mohon kepadaMu, kabulkanlah doaku.” Pemuda itu memejam. Ada air mata yang merembes. Membasah pipinya.

Pintu ruangan terbuka perlahan. Pemuda itu melangkah masuk dan berdiri di bibir ranjang. Tangannya meraih lentik jemari sang kekasih. Sementara itu beberapa pasang mata menatapnya terdiam. Membisu. Tak ada kata, barang sekedar berucap salam.

Dari mata kristalnya ada ketakukan. Kecemasan. Sekaligus harapan. “Oh Yang Maha Pemurah, aku mencintai gadis ini. Selamatkanlah dia. Biarkan kami merajut kasih di musim panas nanti. Biarkan kami bercumbu hingga melahirkan benih-benih cinta,” rintih lirih sang pemuda.

Pemuda itu membungkuk perlahan, dengan bibir yang bergetar, ia mencium kening gadis itu berkali-kali. Memberikan segenap harapan, menyanyikan tebang-tembang kehidupan. Gadis itu tak bergeming.

Sayup-sayup suara denyit itu berhenti. Sang pemuda memeluk gadis itu. Mengguncangkan tubuhnya. Namun si gadis telah kaku. Dingin. Sedingin salju abadi Fujiyama. Pemuda itu meraung. Merobek celah-celah senja.

***

Empat bulan telah berlalu. Butiran padi pada ladang telah dimatangkan oleh hangatnya matahari. Sekawanan burung terlihat menikmati hasil kerja keras petani, hingga mentari menyusut dan bersembunyi di balik taman. Pemuda itu masih duduk bersimpuh di depan batu nisan, menikmati perubahan siang menjadi malam.

Dalam balutan sunyi, pemuda itu memandang lurus ke arah tulisan pada batu nisan yang kian lusuh. “Kekasihku, hal terberat yang aku rasakan ketika aku kehilangamu adalah saat aku kehilangan cinta abadiku.” keluh sang pemuda setelah terdiam beberapa saat.

Pemuda itu memejamkan matanya yang berkaca-kaca dan menadahkan kedua tangannya ke atas, “Oh Yang Maha Pemurah, jika kami belum dipersatukan dalam kehidupan ini, persatukan kami dikehidupan yang akan datang, jangan putuskan siklus hidup kami. Berikanlah ia ketenangan dan berikanlah kekuatan kepada kami yang ditinggalkannya, untuk melanjutkan cerita kehidupan ini.”

“Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:. “.

24 Komentar leave one →
  1. 05/04/2012 2:19 pm

    Bli, saya mbaca cerita keripik pedas yang gk ada keripiknya ini lagi…
    Terimakasih sudah ikutan ya Bli…🙂

  2. 26/03/2012 12:59 pm

    Romantis! Oh, ya kripiknya mana? Hehehe

  3. 14/03/2012 10:30 am

    Hmm.. kenapa keripik pedas? Gak ngerti
    Tapi kata-katanya saya suka…

  4. 09/03/2012 5:46 pm

    sukses kontesnya ya bli🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: