Durhaka

“Nak, sudah larut malam, kamu istirahatlah, besok masih bisa dilanjutkan bukan?” perempuan tua itu mengingatkan anaknya. “Udahlah, kamu tidak bakalan mengerti, bosan mendengar ocehanmu!” bantah pemuda tanggung kepada perempuan tua itu.

“Nak, sarapanlah dulu, ada sayur asem dan keripik singkong,” pinta perempuan tua kepada anaknya. Pemuda itu hanya memandang sesaat. “Sudahlah, aku bisa makan sendiri, sayur asem itu buat kamu saja,” jawabnya penuh angkuh sambil berlalu pergi.

Diam. Pemuda itu tak bergeming, kesunyian telah membawanya ke alam kerinduan. Cinta. Kasih sayang. Ketulusan. Hilang terseret sang bayu. Kebisuan menjadi teman setia, sesaat nama perempuan tua itu terukir indah di batu nisan.

Iklan