Beranda > Cerita Anak > Baik Berbuah Manis

Baik Berbuah Manis

Maaf kalau ceritanya kepanjangan, biar pernah menuliskan cerpen anak, dan ngak cinta terus 😆

Pulang sekolah, Cintya dan Marlintya tidak langsung pulang ke rumah. Mereka mampir di sebuah toko buku. Hati kecil Cintya hendak pulang terlebih dahulu untuk meminta ijin kepada ibunya. Namun karena Marlintya memaksa, akhirnya Cintya mengikuti apa kata Marlintya.

Setibanya di toko buku, mereka memarkir sepeda. Marlintya bergegas membeli keperluannya. Sementara Cintya hanya mengikuti di belakang. Marlintya adalah kakak sepupu Cintya, mereka sama-sama duduk di bangku kelas VI SD.

Kurang lebih lima belas menit berlalu, merekapun keluar toko. Ketika Cintya hendak mengambil sepedanya, ia melihat seorang nenek berdiri di pinggir jalan dengan membawa belanjaaan cukup banyak. Nenek itu kelihatan bingung untuk menyebrang jalan. Cintyapun bergegas menolong nenek untuk menyebrang.

“Cintya, ngak usah dibantu, kita udah kesiangan!” teriak Marlintya melarang Cintya membantu nenek tersebut. Namun Cintya tidak perduli, ia tetap melangkah ke arah nenek. Setelah berbisik sebentar, Cintya membantu menyebrangkan si nenek, kemudian menyarikannya “dokar” (kereta kuda). Setelah itu Cintya kembali dengan hati-hati ke arah Marlintya, mengambil sepeda, kemudian mereka pulang.

***

Hari minggu Cintya bersama Marlintya naik sepeda ke taman kota. Setelah mumutar beberapa kali di areal taman, mereka berhenti di sebuah kedai bubur kacang ijo. Alangkah terkejutnya mereka melihat nenek penjual kacang ijo.

Nenek itu tidak lain nenek tua yang ditolong Cintya menyebrangkan jalan. Di sebelah nenek ada ibu muda sedang melayani pembeli.

“Nak, bukankah kamu yang membantu nenek menyebrang kemarin?” tanya nenek sambil tersenyum kepada Cintya.

“Iya nek, jawab Cintya.

“Oh..jadi kalian yang menolong ibu saya? terima kasih banyak ya nak,” ibu muda di sebelah nenek menimpali.

“Ia bu, sama-sama,” sahut Cintya.

“Kalian mau beli bubur kacang ijo?”  dengan ramah nenek bertanya kepada Cintya dan Marlintya.

“Iya nek, dua mangkok, makan di sini,” jawab Cintya dengan singkat sambil tersenyum.

Nenek tua mengambilkan dua mangkok bubur kacang ijo kepada Cintya dan Marlintya. Tidak memerlukan waktu yang lama bagi Cintya dan Marlintya untuk menghabiskan satu mangkok bubur kacang ijo. Merekapun membayar makanannya.

“Nek, berapa bubur kacang ijonya?” tanya Cintya sambil menyodorkan mangkok kosong.

“Tidak usah nak, bubur kacang ijonya gratis. Ini nenek bungkuskan lagi dua, buat kalian makan di rumah ya?” sahut nenek dengan ramah.

Sementara Cintya dan Marlintya masih terdiam.

“Udah ngak apa nak, ini ucapan terima kasih nenek kepada kamu,” lanjut nenek sambil menepuk bahu Cintya.

“Terima kasih banyak nek ya,” jawab Cintya malu-malu.

“Bu, nek, kami pulang, sekali lagi terima kasih banyak,” pamit Cintya kepada nenek dan ibu muda itu.

“Iya nak, hati-hati di jalan ya?” pesan nenek kepada mereka.

“Cintya, nenek itu baik ya, mulai sekarang aku akan berbuat baik kepada orang,” kata Marlintya.

“Tapi jangan untuk makanan gratis ya,” seloroh Cintya bercanda.

Merekapun tertawa cekikikan sambil mengkayuh sepeda menuju ke rumahnya masing-masing.

Iklan
  1. 07/03/2012 pukul 10:29 pm

    berbuat baik tanpa pamrih.. akan selalu mendapatkan balasan yang baik dalambentuk lain.
    BTW.. cantik-cantik banget itu Cintya dan Marlintya.

  2. Ely Meyer
    07/03/2012 pukul 9:53 pm

    ajarin dong bikin cerpen 😛

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: