Kupu-kupu Kuning

Aku berdiri nyaris lama saat malam berganti pagi. Membiarkan udara dingin masuk dibalik seragamku. Beberapa bibir mengusik kebisuan hati tatkala ia melintas di depanku. “Selamat pagi,” kalimat itu mengiang di telinga.

Ada kejanggalan saat aku memandang pagi hari ini. Sepi. Dingin. Tak ada secercah cahaya menyinari menghangatkan hati. “Benarkan ini terjadi?” suaraku terbawa angin.

Diam. Aku masih membisu ketika kupu-kupu bersayap kuning terbang di antara rerimbunan bunga. Menyelinap dibalik daun yang menghijau. Apa yang ia cari? Tak banyak. Ia hanya menitipkan telur-telurnya. Menjadi ulat, memakan daun, bertahan hidup dan masuk dalam kepompong.

Musim berganti. Kepompong terbuka, membawa kehidupan baru sebagai kupu-kupu bersayap kuning tak jauh beda seperti induknya. Imajinasi proses alam.

“Kupu-kupu kuning, haruskah engkau pergi?” tanyaku ketika melihatnya mulai terbang.

Tak ada jawaban. Hanya kepakan sayap yang mengajaknya manari, memutar kesana kemari di antara relung-relung waktu.

“Kupu-kupu kuning, beri aku waktu memandang indah tarianmu, beri kesempatan sang fajar membias di sayapmu, dan beri kehangatan kepada pagi untuk merengkuhmu,” pintaku berbalut harap.

Ia memutar. Seakan tau apa yang aku katakan.

Kupu-kupu kuning, hari ini aku merasa begitu senang sekaligus sedih. Senang melihat engkau menjadi kupu-kupu yang sempurna. Sedih karena membiarkanmu pergi meninggalkan semua kenangan indah selama ini.

Kupu-kupu kuning, aku mengerti perpisahan bukan akhir dari segalanya, mungkin ia adalah awal sesuatu yang baru. Selamat jalan kupu-kupu kuning, terbanglah ikuti arah angin. Tak ada hidup yang sempurna, tugas kita hanya berbuat setiap harinya bermakna. Kupu-kupu kuning Aku berharap engkau akan kembali dengan caramu sendiri.

Iklan