Skip to content

Di Bibir Senja

24/02/2012
cerpen-di-bibir-senja

Aku berdiri nyaris lama setelah surya naik keperaduannya. Memandang torehan namaku dan juga namanya pada pasir pantai yang terkonyak ombak. Hilang. Dia, orang yang aku sayang, cuma terdiam di sampingku. Rambutnya tergerai tersepoi sang bayu. Tangan lembutnya mengapit erat jemari dinginku. Menguatkan desir hatiku untuk selalu menginginkannya. Ya, aku sangat menginginkan pujaanku ini menjadi pasangan selamanya.

“Anya, benarkah kamu akan pergi ke Australia?” Tanyaku perlahan.

“Ia Bli,” Jawabnya singkat merupa kilatan petir.

Aku cuma bisa terdiam. Merenung. Predikat raja debat yang mengakar padaku seakan raib saat itu juga. Ranah rasaku terasa terkikis perlahan oleh dedeburan ombak. Hanyut. Hilang terseret ke tengah segara.

“Maafkan aku ya Bli,” lanjut Anya dengan kepala menunduk. Memandang butiran-butiran pasir yang menghiasi jari kakinya. Sementara jemari kita tak pernah lepas. Tanpa jeda.

“Kenapa Anya? Bukankah hubungan kita bukan cinta terlarang?” tanyaku berbalut emosi. Anya cuma menggeleng, menyungging senyum miris walau pada akhirnya mata cantik itu merinai. Bulir-bulir merupa mutiara membasah rona pipi yang selalu aku cium.

“Bukan Bli, tak ada yang salah dengan cinta kita, tapi,” katanya terhenti. Sesaat. Ada sesuatu hal yang membuatnya enggan melanjutkan. Sepertinya masalah pelik.

            Selama dua tahun lebih orang tua Anya tak pernah menyetujui hubungan kami. Bagi mereka aku hanya akan menjerumuskan anaknya pada jurang kemiskinan. Ya, aku sadar dengan profesi pelukis panggilan. Untuk itulah sedari awal sudah ada rasa menyerah pada diriku. Namun, karena pintanya kita akhirnya menjalin kasih. Bukan waktu yang singkat menghabiskan dua tahun dengan terus waspada. Sembunyi. Menghilangkan kebahagiaan dari dunia luar.

“Anya takkah kau mencintaiku?”

“Sampai dunia berbalik rasa sayangku tak pernah pudar Bli. Yakinlah.

“Lalu kenapa kau tak mau lari, hidup denganku?”

Tak sepatah kata pun yang mengalir dari bibir mungilnya. Hanya sesegukan yang mulai pecah begitu sendu membelai ruang dengarku. Tak ada ketegaan mendalam melihatnya berada pada situasi berat. Berusaha memilih dua kubu yang ia sayang. Aku dan orangtuanya.

“Kapan kamu berangkat ke Australia?” tanyaku sembari menghapur alir air matanya yang terasa hangat.

“Mungkin dua tiga hari ini Bli.” Anya lemas setelah berucap itu. Dari mata kristalnya ada ketakutan. Kecemasan. Juga harapan yang aku tak bisa menafsirkannya.

            Kurengkuh Anya dengan luapan rasa yang terlanjur pecah. Aku tebarkan kerinduanku yang tak akan pernah habis walau bersekat benua. Hatiku menjerit. Berteriak hingga pekak. Ada rasa tak rela yang menyiksa. Namun apalah daya dula sepertiku, cuma pasrah dan berharap. Semoga orang terkasih akan bahagia. Dengan caranya.

***

            Tak ada pesan maupun panggilan dari Anya selama ini, barang cuma berucap “Apa kabar?” Hidupku terasa berubah tanpanya. Hampa. Hariku selalu mendung kelabu. Tiada pernah secercah cahaya menyinar dan menghangat hati.

            Sore itu aku duduk pada pantai yang biasa kita habiskan bersama. Ada rasa janggal begitu aku duduk dan memandang lepas samudra. “Anya, aku merindumu.” Suaraku terbawa angin. Semoga sampai ke hati Anya.

“Nak, apa kau Budi?” suara kecil dari sampingku menghamburkan anganku. Seorang wanita paruh baya dengan  baju tradisional bali memegang pundakku. Itu Ibu Anya. Aku hafal raut wajahnya.

“Iya bu ada apa?” Jawabku gugup di depannya.

“Untukmu.” Katanya singkat setelah itu berlalu. Menghilang di kerumunan manusia penikmat senja.

Bli, Anya mohon maaf, saat Bli membuka surat ini, mungkin Anya sudah berada di Australia, mungkin juga Anya sudah masuk ruang perawatan. Setahun lalu memang orang tua Anya tidak merestui hubungan kita, namun lima bulan terakhir setelah Anya di vonis kanker pada rahim oleh dokter,  mereka memberikan Anya kebebasan. Bebas mencintamu.

Namun, semuanya itu terlambat Bli, kalaupun Anya beruntung hidup dan kita berjodoh, Anya akan menjadi lebah yang tak mempunyai madu, yang tak mampu memberikanmu anak. Dan Anya tak mau menyiksamu dengan segala cemohoan orang-orang. Bli, tidak pantas mendapatkan semua itu, Bli terlalu baik, semoga Bli bisa mendapatkan yang lebih baik dari Anya. Peluk cium kasihmu, Anya.”

26 Komentar leave one →
  1. shinta permalink
    29/02/2012 4:49 pm

    sampai kapanpun cinta itu akan ada di hati anya, tak akan pernah hilang&terlupakan, akan sll menjadi kenangan yg indah….

  2. 29/02/2012 1:09 am

    Terus? Terus?..Gimana lanjutannya?

  3. 26/02/2012 11:38 pm

    disaksikan lembayung senja, semua kenangan telah berlalu mengharu biru… 😉

  4. 26/02/2012 2:18 pm

    ikut menyimak bli🙂
    Heheheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: