Skip to content

Sebuah Catatan Pendek

23/02/2012
catatan-pendek

Seperti biasa ruangan tengah ini syair tetap tak berubah. Tak ada kata yang menyebut namaku, sepi dan membisu. Suara bik Inah yang ramah, memanggil aku dengan sebutan “tuan,” membuat aku bosan, aku ingin lebih dari sekedar kata “tuan.” Bahkan foto keluarga yang terpajang rapi di dinding hanya berfungsi sebagai asesoris ruangan.

Kerja keras ayah yang tak kenal waktu, menjadikan ia orang nomor satu dan super sibuk di perusahaan. Sementara mamaku terlalu cepat berjalan di sampingnya. Hari libur sebagai acara keluarga hanya seremonial dan sebuah rutinitas, keesokan harinya mereka kembali menjadi “robot” yang terprogram dengan waktu.

Kemewahan yang aku dapat tak mampu membeli orang untuk memanggilku “nak.” Hingga suatu ketika aku terjebak oleh “teman” yang memberikan aku kebahagiaan semu. Apakah ini sebagai bentuk protes terhadap kedua orang tuaku? Apakah ini aksi balas dendam kepada mereka? Tidak! semua ini karena aku tak sanggup tanpa sebuah pengakuan!

Tiap kali aku hendak lari dari “teman” ini, saat itu juga aku tak mampu meninggalkannya. Maafkan aku ayah, maafkan aku mama. Aku bukanlah anak yang penurut, yang selalu mendengar perintah kalian melalui bik Inah. Aku bukanlah anak yang pintar mengatur uang pemberianmu. Aku adalah anak yang penikmat narkoba, saat ini aku berjuang untuk melawannya.

19 Komentar leave one →
  1. 24/02/2012 7:06 pm

    nggak hanya orang artis saja yang banyak kena masalah dgn narkoba, orang biasa juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: