Skip to content

Elegi Malam Minggu

03/02/2012

Udara pagi berhembus lembut, terasa sejuk membelai kulit. Sinar mentari yang terpantul dari butiran-butiran embun terasa begitu hangat. Pagi ini memang begitu cerah, segumpalan awan yang berarak menambah indah hiasan langit. Alam memang begitu akrab.

Dari sebuah rumah, keluar seorang cowok berseragam SMU. Dengan gaya anak jaman sekarang dan wajah yang ceria, ia menuntun motor kesayangannya. Arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya saat itu menunjukkan 06:45 pagi, masih ada waktu 15 menit untuk tuh cowok tiba di sekolahnya.

“Ma…Rangga berangkat!”
Cowok keren dengan rambut sedikit gondrong itu ternyata bernama Rangga, lengkapnya Rangga Aditya Pratama. Tanpa menunggu balasan dari mamanya, Rangga menggeber sepeda motornya.

***
Suasana sekolah sudah ramai, setelah memarkir sepeda motor, Rangga bergeges menyusuri lorong kelas. Dikejauhan tampak dua orang cowok bergegas mendekat ke arah Rangga. Yang pertama dengan kulit agak gelap dan mata sipit adalah Randy yang biasa dipanggil Acong. Sementara yang kedua dengan kulit lebih bersih bernama Tonny.

“Hai brow..?!” sapa Rangga pada kedua sohibnya itu.
“Temben elu datang agak telat, Rangga?” tanya Randy.
“Ia Cong, alarm jam gue mati,” keluh Rangga setengah menggerutu, nyalahin jam meja di kamarnya.
“Halah…elo nyalahin jam lagi, itu benda mati coy, elu itu yang tidurnya kemalaman karena asik facebookan,” celoteh Tonny.
“Coy…sekarang malam minggu, entar malam elu turun ngak?” tanya Randy kepada Rangga.
“Turunlah, kalau gue ngak turun, apa kata dunia?”
Merekapun bergegas masuk ruangan kelas.

***
Malam minggu merupakan hajatan mingguan bagi Rangga dan beberapa teman lainnya, yang rata-rata penggila sepeda motor. Mereka biasa adu kecepatan di jalan umum. Biasanya mereka nongkrong di jalur by pass, dan mereka sangat pintar kucing-kucingan dengan  petugas. Begitu suasana mendukung mereka mulai beraksi.

“Gimana Rangga, motor dan mentalmu udah siap coy?” tanya Tonny.
“Udah Ton, elu tenang aja!, elu tinggal hitung berapa duit yang kita dapat sebentar?” jawab Rangga dengan percaya diri. Sementara Randy sibuk mengurusi uang taruhan.

“Kalian siap!!, teriak seorang pemuda yang ternyata adalah pemandu acara.
Dengan penuh semangat Rangga dan Jaka mengacungkan jempol, tanda kalau mereka telah siap. Rangga dan Jaka sama-sama idola di lapangan. Jaka adalah salah satu anak SMU di kampung Rangga, namun mereka berbeda sekolah. Kemahiran dan kecepatan Jaka memacu motornya tidak kalah dengan Rangga, dan mereka sering bertukar posisi satu dan dua.

“Satu.. dua… dan.. gooo,” teriak pemandu acara.

Rangga dan Jaka melesat begitu cepat, rauangan motor mereka seakan menelan suasana malam. Empat ratus meter pertama Jaka memimpin. Memasuki empat ratus meter kedua, Jaka kehilangan konsentrasi, ia tidak dapat menguasai kendaraannya dan brakk!! Motor Jaka menabrak pembatas jalan. Jaka dan motornya terpental serta terseret beberapa meter, sebelum akhirnya berhenti menabrak trotoar, darah segar mengalir dibalik helmnya. Nyawa Jaka tak tertolong iapun meninggal saat perjalanan ke RSU.

***
Pemakaman Jaka diiringi isak tangis kerabat dan para sahabatnya. Tak ada yang bercerita kalau Jaka meninggal karena balapan liar, semua teman-teman mengatakan kalau jaka tergelincir sehingga out of control. Dipemakaman itu Rangga, Randy dan Tony, lebih banyak diamnya, mereka masih tidak menyangka kalau Jaka pergi begitu cepat.

“Ayo Rangga, kita pulang,” ajak mamanya.
Rangga hanya menganggung perlahan, iapun berjalan disebelah mamanya, sementara Randy dan Tony mengikuti dibelakangnya.

Diperjalanan mama Rangga bercerita, “Rangga…, lima belas tahun yang lalu, saat itu usia kamu baru menginjak satu tahun, ayahmu korban tabrak lari oleh pemuda yang ugal-ugalan di jalan. Mama begitu kehilangan, mama tidak sanggung dengan kenyataan kalau ayahmu telah meninggal. Rasanya mama tidak terima dan tidak ingin memaafkan pemuda itu. Mama tidak ingin kamu menjadi bagian dari pemuda itu, karena ketika kehilangan orang yang kita cintai, sangatlah berat,” kenangnya.

Mohon maaf kalau kepanjangan🙂

22 Komentar leave one →
  1. 11/02/2012 4:57 am

    dulu di dekat rumahku sana juga ada bli balapan kebut kebutan liar tiap malam minggu, ngeri

    • 11/02/2012 6:21 am

      Dan saya paling jengkel mbak…bukan apa, takutnya yang baik-baik, bapak dan ibu yang jalan2 dengan anak2nya kena imbas dari mereka kebut-kebutan

  2. 09/02/2012 12:44 am

    Wah padahal saya suka ngebut kalo uda naikin motor:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: