Rapat “PSSI”

Terlambat. Ah…kali ini aku terlambat lagi, jam tanganku menunjukkan pkl.08:45 wita. Waktuku tinggal 15 menit untuk bisa hadir pada rapat “PSSI.” Sementara yang aku tahu perjalanan ke kantor “BBM” memakan waktu 30 menit, itupun kalau tidak macet, kalau macet? ngak usah ditanya, tergantung macetnya berapa detik, menit dan berapa jam.

Begitu tiba di halaman kantor BBM, bergegas aku menuju ruang rapat. Sementara pikiranku sudah tak karuan (gimana tampang si Mayor  👿 dan Kapten  😈 sebentar). Ah…udahlah, lebih baik terlambat tapi selamat, dari pada buru-buru masuk UGD.

Selamat pagi pak, aku mengawali. Namun ruangan rapat yang ber-ac tiga unit tak mampu mendinginkan suasana. Si Mayor asyik mengkalkulasi angka dengan kaca matanya di hidung (maklum beliau guru matematika, segala sesuatu dihitung pas), sementara si Kapten menatap tajam ke arahku. Tak ada jawaban dari ke dua “Preman HTML” ini. Tanpa dipersilakan, akupun duduk.

“Empat puluh lima menit ditambah lima belas menit persiapan, jadi kamu korupsi waktu enam puluh menit, atau sama dengan satu jam,” kata Mayor. “Satu jam adalah waktu yang tidak singkat, karena di negeri” BBM” satu jam adalah satu hari, karena kita anti biasa,” sambung Mayor lagi. “Jika tiap menit kita menghasilkan satu produksi, kamu hitung, berapa kerugian kita, jika tanpa produksi selama enam puluh menit?” lanjut Mayor 👿

Aku hanya terdiam 😯 (Uhh..dasar matematik, hitunggggg semua). “Akan tetapi, kita ini anti biasa, keputusan tidak harus mencari kata sepakat, dan keterlambatan kamu saya hargai, ” jelas Mayor lagi. Dan sebagai pimpinan di “BBM,” saya telah memutuskan hasil rapat PSSI seperti ini, itu dan situ, kata Mayor.

Petikan Skep

Iklan