Karsini

LSM. Lembut Santun dan Menawan, mungkin itu yang bisa aku ungkapkan kepada “Karsini.” Meskipun aku tak pernah menyentuhnya, meskipun aku tak mengenalnya, namun ketika ia menuangkan kata dalam cerita, ada cinta dalam diksinya. Haruskah aku berkata tidak? Ya aku tidak akan menolak kecupan mesranya.

Karsini. Engkau hebat, engkau pacu darahku bergolak, engkau jadikan aku tak biasa, engkau buat langit pikiranku berpelangi dan engkau buat aku tak berdaya dalam pelukmu. Pada akhirnya aku sadari, kalau hubungan aku dan kau adalah hal yang paling indah.

Saat aku coba merengkuh jemarimu, saat aku coba untuk menghiburmu, justru semua itu berbanding terbalik. Akulah yang membutuhkan hiburan itu, akulah yang tak mampu mengontrol diri. Jantungku berdegub, nafasku tersengal dan bibirku bergetar seraya menyebut namamu “Karsini.”

Begitu banyak cerita yang engkau tuliskan, hingga kadang engkau berusaha menyerupai mereka, namun jangan biarkan mereka menyerupaimu. Diam, aku hanya terdiam saat engkau menari, peluh menghiasi dahiku, mataku terpejam, bebirku kembali bergetar, dan hatiku memanggil namamu “Karsini.”

Iklan