Beranda > Flash Fiction > Afikah

Afikah

Adalah satu hal yang selalu aku lakukan saat Idul Fitri. Aku mainan ke sebuah panti asuhan. Seperti biasa aku bertemu dengan seorang sahabat. Afikah, demikian nama sahabatku itu. Entah sudah berapa lama dia tinggal di panti sebagai yatim piatu. Dia hanya ingat kalau umurnya saat itu 22 tahun (Tahun 1998).

“Afikah, ngak biasanya kamu duduk di sini, lagi cari inspirasi yach,” tegur aku saat melihat Afikah berdiri di dekat pohon cemara. Afikah terkejut, “Eh..Bud, sudah tadi ya datang?, aku lagi liatin pohon cemara nich, bagus ya Bud, meskipun tidak ada yang memperhatikan, tetapi dia masih terus tumbuh dan berkembang,” jawab Afikah dengan nada yang sedikit berat.

Sambil guyon aku jawab, “Alah…pohonnya kan udah gede, jadi bisa cari makan sendiri tuh.” Afikah hanya nyengir, “Yuk..kita duduk di beranda panti Bud,” ajak Afikah. Kamipun menuju kursi panjang yang ada di beranda panti. Afikah sibuk mengambil roti kering dan membuatkan aku segelas sirup.

“Bud, aku senang tinggal di panti ini, namun kadang aku sedih juga,” Afikah mulai membuka pembicaraan. “Memangnya kenapa?, Ibu panti baik, begitu juga dengan anak-anak yang lainnya, mereka baik semua sama kamu,” jawab aku.

“Masalahnya bukan begitu Bud, aku kadang iri dengan mereka yang masih mempunyai orang tua. Mereka bisa bermanja-manja dengan orang tua, mereka bisa sungkeman saat Idul Fitri. Dan suatu ketika mereka menikah, mereka pasti mendapatkan restu kedua orang tuanya, sementara aku? Itu semua ngak aku dapatkan, aku ingin bahagia seperti mereka Bud,” terang Afikah.

Afikah terdiam, matanya menahan cairan yang hendak keluar, direbahkan kepalanya di sandaran kursi. Aku berusaha menahan diri untuk tidak larut. Aku bayangkan perasaan Afikah saat itu. Ini memang bukan cerita lama, setiap hari raya Idul Fitri pasti ada air yang mengalir di pipi Afikah.

“Afikah, kebahagiaan itu seperti Bola Kristal. Saat ia jatuh, ia akan pecah, dan setiap orang berhak untuk mendapatkan pecahannya, namun besar kecilnya sesuai dengan kebesaran hati kita untuk menerimanya.” Hanya itu yang dapat saya katakan saat itu.

Kebahagiaan adalah milik semua orang, tergantung besar kecilnya nurani kita untuk menerimanya.

Budi Arnaya berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

Sebelum cerita ini saya posting, terlebih dahulu saya laporan kepada Afikah dan ia memberikan ijin, hanya saja ia minta identitas sebenarnya dirahasiakan. Saat ini Afikah sudah mempunyai 2 orang anak.

Iklan
  1. 20/01/2012 pukul 6:52 pm

    Kebahagiaan memang harus kita cari sendiri Bli, karena ujian setiap orang pasti berbeda.
    Betul yang Bli Budi bilang bahwa kebesaran hati kitalah yang akan menentukan seberapa sering kita akan merasa bahagia…kalimat motivasinya keren banget, Bli!

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: