Beranda > Kehidupan > Kedamaian,Tujuan Hidup

Kedamaian,Tujuan Hidup

Pengusaha. Berpendidikan yang tinggi, kuliah di luar negeri, memiliki gelar, melihat sesuatu secara detail untung ruginya. Ketika melihat perahu kecil, ia berusaha bagaimana dengan perahu kecil bisa menggunakan waktu di laut selama mungkin untuk bisa menangkap ikan yang banyak, lalu jual ke pasar, kemudian hasilnya untuk ia membeli perahu yang lebih besar.

Dari perahu yang besar bisa menangkap ikan lebih banyak lagi, menambah armada perahu nelayan, lalu hasilnya langsung dijual ke pabrik pengolahan ikan, dan akhinya bisa memiliki pabrik pengalengan ikan sendiri, hasilnya bisa di ekspor, lalu pindah ke pusat kota untuk mengembangkan pabrik sehingga menghasilkan uang bermilyar – milyar dan memiliki saham.

Saham terjual, pindah ke desa kecil menikmati kekayaan bersama keluarga dan anak – anak, tidur siang bersama istri dan anak, bermain di desa, memancing untuk mengisi waktu dan menyalurkan hoby, kumpul bersama teman di kampung, minum kopi di pos ronda, dan pengusaha itu merasa tenang dan bahagia, namun waktu yang ia perlukan untuk semua itu bisa 10 sampai 20 tahun kedepan.

Nelayan atau buruh. Mereka berpikiran tidak detail seperti pengusaha dalam “arti hidup” sesungguhnya, Mereka akan bekerja sesuai kebutuhan, berangkat kerja pagi dan pulang sore dengan membawa hasil kerja untuk memberi makan istri dan anak. Menjelang megrib mereka sholat, makan bersama, bermain dengan anak – anak. Malamnya duduk di pos ronda menikmati kopi hangat, habis itu mereka pulang tidur dengan istri dan anak. Ia tenang dan membutuhkan waktu 1 hari.

Kesimpulan.

Pola pikir Nelayan dan buruh itu adalah pola hidup dengan “kesederhanaan dan terfokus” dalam pencapain hidup, mengerti untuk apa dan siapa dia hidup yaitu “untuk suatu kedamaian dalam keluarga,” dan mereka tidak membutuhkan waktu yang panjang, mereka kemungkinan akan berumur panjang  lalu meninggal dengan damai.

Pengusaha memiliki pola pikir “mengerti akan perjuangan hidup, memperbaiki status dan kualitas hidup,” namun tidak terfokus apa yang menjadi tujuan hidup sebenarnya, yaitu “kedamaian.” Mereka baru bisa mencapainya sekian puluh tahun kedepan, dan jika hal itu tidak bisa terwujud kemungkinan mereka akan terserang penyakit jantung, stroke dan sebagainya. Sehingga ketika meninggal mereka tidak menemukan suatu kedamaian.

Mohon maaf, tidak ada maksud menyinggung profesi tertentu, namun sekedar gambaran dan terinspirasi dari tulisan seorang sahabat yang luar biasa dengan judul “Demi Sesuap Nasi.” Terima kasih sobat.

Iklan
  1. 27/12/2011 pukul 6:22 am

    Ada baiknya di tambah linknya jadi bisa saling kunjung…
    Artikel di atas hanya ilustrasi saja, bukan berarti pengusaha yang sesungguhnya dan nelayan yang sesungguhnya, namun lebih kepada apa yang menjadi tujuan hidup kita, yaitu mencari “kedamaian itu sendiri”
    Pencarian kedamaian itu tergantung dari kita, dengan cara ribet atau sederhana, itu pilihan masing-masing, diagram alur yang saya umpamakan sebagai pengusaha itu lebih panjang dibandingkan yang saya umpamakan sebagai nelayan. Jadi semua itu ada di tangan kita mau pilih yang mana.

  2. dd
    27/12/2011 pukul 1:59 am

    salam kenal
    ijinkan saya coment
    menurut saya pengusaha atau tidak yg penting demi/tujuan kebaikan, diri, keluarga bahkan orang lain, bangsa atau dunia atau terlebih lg pada alam/semua makhluk (yg mgkn bisa dibilang bentuk dan besarnya pengabdian manusia pada Tuhannya berbeda2) yg dicapai dgn cara yg baik pula
    kalo untuk konteks “kedamaian” definisi buat tiap org beda2. ada jg lo org yg damai jika dlm persaingan/perjuangan regardless apapun hasilnya/jantungan.
    mgkn karyawan jg pasti ngalaamin kecemasan sama kaya pengusaha tp dlm bentuk dan besar yg beda
    yg penting kita damai saat ini apapun profesi kita untuk mengisi waktu di dunia untuk tujuan tsb di atas, menggunakan waktu sebaik2nya untuk trus grow tergantung pgn seberapa pengabdian kita pada Tuhan. pengusaha/tdk sama2 bisa grow untuk tujuan tsb di atas, tujuannya tercapai lebih besar mana / lebih cepat mana ya tergantung orangnya itu sdr dan hukum alam saat ini hehe. (*catatan: tetap yg bisa menjudge besar kecil pengabdian pada Tuhan ya Tuhan sdr, jd belum tentu jika dilihat dari kcamata manusia hasil materi kecil pengabdian kecil krn kan buanyak faktor lainnya)
    tp menurut saya ko, kedamaian bukan hanya sebagai tujuan, tp bagaimanapun kondisi kita, kita harus damai/ikhlas mempertanggungjawabkan anugerah/modal dari Tuhan yg namanya waktu sebagai rasa syukur atas modal dari Tuhan ciptaan/karya terbaik sang Maha (yaitu kita) untuk trus grow (bukan memaksimalkan potensi kta tp kembali pada fitrah kita bahwa kita adalah kalifah) menjadi lebih baik tiap waktu sehingga kita bisa merasakan HASIL/TUJUAN TSB DI ATAS (damai juga) tiap waktu (jd merasakan damai dan hasil tiap waktu (krn apapun keadaan kita ada positif dan negatif, tergantung kita fokusnya kemana…be possibility n positif thinker)

  3. 21/12/2011 pukul 10:50 pm

    Pengusaha jelas lebih kemrungsung karena dilanda kecemasan akibat persaingan. Oleh karena hati dan pikir perlu ditata lagi agar ikhlas.
    Ikut Kontes lagi. Mohon dukungan dan keplokan ya teman-teman.
    Salam hangat dar Surabaya

    • 24/12/2011 pukul 6:30 am

      Heeee…kunjungan spesial dari senior nich…matur nuhun pakde

  4. budiastawa
    21/12/2011 pukul 8:49 pm

    Hebat bro… ternyata tulisan Sdri. Ely benar-benar menginspirasi elo…. 😀

    Dan “sesuap nasi” bagi seorang buruh dan pengusaha tentunya beda juga ya bro? Aku sering mendengar seorang pengusaha kaya berkata, “Ah, demi sesuap nasi aja pak.” Aku nggak bisa membayangkan suapan nasinya sebesar apa, he he he

  5. 21/12/2011 pukul 5:16 pm

    Hidup dalam kedamaian itu memang impian semua orang ya mas (udah terbiasa manggil gini, jadi gapapa yaaah 😀 ). Tapi bagaimana mendapatkannya setiap orang pasti punya caranya masing-masing.. Dan menurut saya itu adalah pilihan… 🙂

    • 21/12/2011 pukul 5:27 pm

      Bener dik (membuat panggilan baru 😆 ) entar ditipuk pakai sandal ngak yach…

      Karena hidup memang pilihan dan itu ada ditangan kita dengan segala konsekuensi yang ada

  6. 21/12/2011 pukul 3:01 pm

    maunya hidup damai dankesejahteraan keluarga tercukupi

    • 21/12/2011 pukul 5:23 pm

      yang penting kita bersyukur apa yang kita dapatkan ya mbak…

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: