Melody Cinta

Sesaat…

“Sayang, coba kamu lihat rembulan itu, di malam yang sunyi dia menerangi seluruh alam dalam buaian sinarnya yang mempesona, begitu pula dengan cintaku padamu, tak kan pernah kubiarkan ruang hatimu dalam kegelapan, dengan sinar cintaku kan kubasuh engkau dengan kasih nan suci, tak terkeringkan oleh angin tak terhempas oleh badai, karena engkau adalah belahan jiwaku”.

Kemudian…

“Sayang, betapa indah hidup ini, dengan istri secantik kamu, tiap hari menyuguhkan kopi dan sarapan, menyetrika bajuku, serta memberikan anak yang mungil bukti cinta kasih kita, serasa lengkap sudah hidupku selama ini, seluruh kebahagiaan berpihak kepada kita”.

Lalu…

“Ma..mama..! sepatu papa dimana? bajunya kok belum disetrika?. Sepatu di rak pa..!!, kalau belum setrika, pakai baju yang lain saja, mama juga buru-buru mau arisan..!. Lalu kopi dan sarapan mana ma!!, Tidak sempat bikin pa..!! nanti beli di kantin kantor aja..!! (sambil menggerutu istri bilang, udah besar mau dimanjain terus), sementara suami menggerutu (dasar ibu-ibu kerjaannya arisan melulu)”.

Selanjutnya…

“SMS diterima, Pa…ngak pulang? Jika masih lembur, mama masih nunggu lo?”

“SMS terkirim, udah kelar kok ma, baru aja, entar pulang pijitin ya?”

Benarkah cinta itu pudar? Profesi sering menjadi pemicu menyalanya rasa egois masing-masing. Jika ada kesempatan untuk “mengambil waktu” mendekatkan hati dalam suatu keramahan, kenapa harus ditunda?

Iklan