Emak

Emak menghempaskan pantatnya di balai-balai bambu tua. Sambil menyeka keringat, emak melonjorkan kaki yang terbalut kain lusuh. Perlahan tangannya bergerak memijat betis yang dirasakannya pegal.

Musim panas begini, dimana orang-orang pada sibuk mencari ruang ber-AC, sementara emak menganggap sinar matahari adalah sebuah berkah. Pagi buta ia sudah menyusuri jalan menuju sawah milik pak lurah, bekerja sebagai buruh tani. Sepulang dari sawah, emak masih mengais rejeki dengan memungut gelas plastik aqua bekas.

Seperti sore ini, emak mengeluarkan rupiah dari dalam lipatan selendang kain yang melilit di pinggangnya. Dipanggilnya anak semata wayang yang menemani hari-hari emak dengan setia.

“Juminten…rene nduk, dino iki emak onok rejeki, iki duit kanggo blonjo sesok,” emak menyerahkan empat lembar uang sepuluh ribuan kepada anak perempuannya.

“Walah nduk..nduk.. piye awakmu iki to..ngangge klambi iki maneh? Sampean kan wis ditukokke klambi anyar ambi Pardi?

Mendengar ucapan emak, Juminten mulai murung dan hatinya gundah. Emak kembali berkata, “Minten, Pardi iku are’e apik, meski dudo wonge pateng.”

Wajah Juminten kian tidak karuan. Mas Pardi yang dikatakan Emak adalah laki-laki yang umurnya beda sepuluh tahun dari dirinya, sebetulnya bukan masalah umur, namun ia telah mencintai laki-laki lain.

Sambil terisak iapun berkata, “Aku ngak treso karo de’e mak, tresnoku kanggo mas Budiman.”

“Minten..minten, witing tresno jalaran soko kulino,  ngak usah ngarepe mas Budimanmu, are’e ngak sepadan karo awake dewe.”

Emak sebetulnya mengerti kalau Juminten dan Budiman saling mencintai, namun emak sadar, Budiman anak orang kaya di kampung mereka dan akan terjadi prahara jika mereka meneruskan cintanya, terutama dari pihak keluarga Budiman.

Juminten menangis dipangkuan emak, emak perlahan mengelus kepalanya dengan penuh kasih. Sambil berkata, “Minten, emak wis sepuh, emak percoyo, Pardi iso ndjogo awakmu.”

Artikel ini terinspirasi dari foto dibawah ini, yang ditampilkan oleh Mama Olive, makasi ya mbak…matur nuhun.

Mohon maaf jika ada kalimat yang kurang pas, dikarenakan bahasa jawa yang pas-pasan 🙂

Iklan