Skip to content

Perempuan (2)

29/11/2011

***

Made…Bli begitu bangga kepadamu. Kamu begitu gampang melahirkan tanpa jeritan-jeritan yang berarti, namun Bli kecewa, kenapa kamu tidak mampu memberiku anak laki-laki? Anak kita sudah tiga dan perempuan semua. Jika mereka besar dan menikah nanti, siapa yang akan merawat kita? Aku mengerti, suamiku Bli Tomblos begitu kecewa dengan kelahiran anak ketiga kami, yang ternyata perempuan. Kita hanya mampu berdoa segala sesuatunya Ida Sanghyang Widhi yang menentukan.

Hatiku begitu teriris dengan perkataan suamiku. Disaat aku masih tersengal, keringatku masih mengucur dan darah masih menghiasi selangkanganku, dalam prosesnyapun ibarat megantung bok akatih (Bergantung sehelai rambut), Bli Tomblos begitu enteng berkata tentang laki dan perempuan.

***

Dua bulan telah berlalu, sejak kelahiran anak ketiga, Bli Tomblos tidak pernah pulang. Jangankan untuk menggendong anak kami, memberikan nama saja tidak. Saat aku melihat mobil taxi, pikiranku selalu teringat akan Bli Tomblos. Semua teman Bli Tomblos aku tanya tentang keberadaannya, jawaban mengerucut kepada kalimat “tidak tahu.”

Kegetiran menghiasi langkahku, tak sanggup aku menelan air mata setiap kali anakku menanyakan tentang ayahnya. Kenapa selalu anak lelaki yang dinanti? Tidak adakah cara lain jika kita tidak mempunyai anak lelaki?. Aku masih ingat saat aku belum menikah, ketika orang tua kami jatuh sakit, akulah yang merawat bersama adik bungsungku yang perempuan. Sementara saudara laki-lakiku begitu sibuk dengan keluarganya. Saat mertuaku sakit, suamiku begitu sibuk dengan tamu-tamu, akulah yang merawat orang tuanya.

Bulan keenam Bli Tomblos pulang kerumah, dan hendak menceraikan aku. Ketika aku menanyakan, jawabnya karena aku tidak mampu memberikan anak laki-laki. Tidak ada yang perlu aku banggakan di sini. Keindahan bulan purnama kini terselimuti dengan awan kelabu. Rayuan manis Bli Tomblos berubah menjadi cacian dan makian.

Kubungkus pakaian anak-anakku. “Kita mau kemana me?” anak sulung kami bertanya. Aku hanya jawab, “Besok kita akan tinggal di rumah nenek dari meme.” Anak sulung kami menangis sesegukan, “Bape tidak sayang lagi dengan kita ya me?”. Aku hanya mengangguk perlahan.

Mentari masih sembunyi, embun enggan bergeser dari tempatnya, Aku pergi meninggalkan rumah kenangan kami dengan digandeng kedua anak perempuanku, sementara si bungsu tertidur tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan kehidupan orang tuanya.

***

Satu jam terasa singkat mendengar cerita ibu Made Kari, aku sendiri tidak tahu kenapa dia menceritakan kehidupannya 3 tahun lalu. Aku hanya berdoa semoga ia dan anaknya selalu diberikan kesehatan. Setelah kepergian ibu Made Kari, aku bergumam dalam hati, “Walau tanganmu terasa perih dan air mata mengiringi lagumu, namun yakinlah bahwa semua itu akan memahkotaimu dengan keindahan.”

Selesai.

27 Komentar leave one →
  1. 06/12/2011 9:56 am

    Manusia selalu merasa kurang ya. Sudah diberi anak perempuan, ingin laki-laki. Diberi anak laki-laki, pasti inginnya perempuan.
    Padahal kalau kita mau bersyukur, rahmat Tuhan itu sudah demikian berlimpah buat kita…

  2. 03/12/2011 11:11 am

    begitulah yang selalu terjadi di Indonesia *atau juga di negara berkembang lainnya?*
    jika terjadi perceraian anehnya si perempuan + anak2 yg terusir dan harus mencari tempat penghidupan yang baru, terserah mau dapat yg layak atau tidak layak,
    jadi saya kira, kadang ada kaitannya dengan grafik ibu bekerja yang meningkat,
    karena perceraian dapat menimpa siapa saja, tanpa diduga2 ..

    di sini malah ada lho, blom punya anak minta anak, dikasih anak perempuan 2, minta anak laki, dikasih anak laki 1, eh ga lama tetap lho istrinya dicerai. alasannya? prinsip yang berbeda! *haiyahhh*

  3. 02/12/2011 8:52 am

    kisahnya terlalu pilu bli, tak dapat dilukiskan dengan kata kata😥 salam kenal ya bli.

  4. 01/12/2011 6:36 pm

    wah .. pertanyaanku kok blom dijawab ya ?😦

    • 01/12/2011 8:25 pm

      Heeee kan udah mbak….hanya tokoh yg suka gonta ganti🙂

      • 05/12/2011 6:42 pm

        bukan itu …. aku nanyanya itu ttg nama yg rasanya asing di telinga, blis tombos, apa ada org yg namanya spt itu, dr daerah tertentu mungkin atau cuma nama karangan ? thanks kalau diberitahu jawabannya🙂

        • 05/12/2011 7:07 pm

          Heeee kalau hanya tokoh…semua personil di dalamnya nama samaran mbak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: