Perempuan (2)

***

Made…Bli begitu bangga kepadamu. Kamu begitu gampang melahirkan tanpa jeritan-jeritan yang berarti, namun Bli kecewa, kenapa kamu tidak mampu memberiku anak laki-laki? Anak kita sudah tiga dan perempuan semua. Jika mereka besar dan menikah nanti, siapa yang akan merawat kita? Aku mengerti, suamiku Bli Tomblos begitu kecewa dengan kelahiran anak ketiga kami, yang ternyata perempuan. Kita hanya mampu berdoa segala sesuatunya Ida Sanghyang Widhi yang menentukan.

Hatiku begitu teriris dengan perkataan suamiku. Disaat aku masih tersengal, keringatku masih mengucur dan darah masih menghiasi selangkanganku, dalam prosesnyapun ibarat megantung bok akatih (Bergantung sehelai rambut), Bli Tomblos begitu enteng berkata tentang laki dan perempuan.

***

Dua bulan telah berlalu, sejak kelahiran anak ketiga, Bli Tomblos tidak pernah pulang. Jangankan untuk menggendong anak kami, memberikan nama saja tidak. Saat aku melihat mobil taxi, pikiranku selalu teringat akan Bli Tomblos. Semua teman Bli Tomblos aku tanya tentang keberadaannya, jawaban mengerucut kepada kalimat “tidak tahu.”

Kegetiran menghiasi langkahku, tak sanggup aku menelan air mata setiap kali anakku menanyakan tentang ayahnya. Kenapa selalu anak lelaki yang dinanti? Tidak adakah cara lain jika kita tidak mempunyai anak lelaki?. Aku masih ingat saat aku belum menikah, ketika orang tua kami jatuh sakit, akulah yang merawat bersama adik bungsungku yang perempuan. Sementara saudara laki-lakiku begitu sibuk dengan keluarganya. Saat mertuaku sakit, suamiku begitu sibuk dengan tamu-tamu, akulah yang merawat orang tuanya.

Bulan keenam Bli Tomblos pulang kerumah, dan hendak menceraikan aku. Ketika aku menanyakan, jawabnya karena aku tidak mampu memberikan anak laki-laki. Tidak ada yang perlu aku banggakan di sini. Keindahan bulan purnama kini terselimuti dengan awan kelabu. Rayuan manis Bli Tomblos berubah menjadi cacian dan makian.

Kubungkus pakaian anak-anakku. “Kita mau kemana me?” anak sulung kami bertanya. Aku hanya jawab, “Besok kita akan tinggal di rumah nenek dari meme.” Anak sulung kami menangis sesegukan, “Bape tidak sayang lagi dengan kita ya me?”. Aku hanya mengangguk perlahan.

Mentari masih sembunyi, embun enggan bergeser dari tempatnya, Aku pergi meninggalkan rumah kenangan kami dengan digandeng kedua anak perempuanku, sementara si bungsu tertidur tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan kehidupan orang tuanya.

***

Satu jam terasa singkat mendengar cerita ibu Made Kari, aku sendiri tidak tahu kenapa dia menceritakan kehidupannya 3 tahun lalu. Aku hanya berdoa semoga ia dan anaknya selalu diberikan kesehatan. Setelah kepergian ibu Made Kari, aku bergumam dalam hati, “Walau tanganmu terasa perih dan air mata mengiringi lagumu, namun yakinlah bahwa semua itu akan memahkotaimu dengan keindahan.”

Selesai.

Iklan