Perempuan

Matahari bersinar dengan terik, pohon-pohon berteriak debupun beterbangan. Raungan kendaraan menambah hiruk pikuk suasana. By pass Ngurah Rai – Nusa Dua, kembali menggeliat seiring dengan aktifitas penggunanya. Aku mundur dua langkah dari tempatku berdiri, kubuka penutup kepala seraya menyeka keringat di antara dahi dan alis mataku. Sebuah bale-bale di bawah pohon menjadi sasaran istirahat.

Bli, merawat anak perempuan tidak membuatku kerepotan dan saya merasa bahagia memilikinya, jawab Made Kari. Seorang Ibu muda penjual pakaian yang kebetulan menemaniku istirahat. Sangat bahagia ketika mereka tumbuh dengan sehat serta memanggil “meme” (Ibu) kepada saya, terang ibu Kari.

Made Kari mulai bercerita tentang sepenggal kisah kehidupannya.

***

Anak saya yang pertama Niluh Wulandari dan adiknya Made Sekarini, mereka terlahir hanya beda setahun, karena kami tidak menggunakan alat untuk KB. Kelahiran mereka memberikan rezeki kepada kami. Bli Tomblos yang kesehariannya sebagai sopir taxi, kini banyak langganan, entah itu tamu domestik maupun manca negara. Kami semua hidup berkecukupan, Bli Tomblos begitu menyayangi anak-anak.

Made…Bli nidurkan Wulan dan Sekar ya? setelah itu baru ayahnya ditidurkan. Akupun tersenyum dan mengerti apa yang diinginkan suamiku Bli Tomblos. Terdengar sayup-sayup suamiku nembang untuk melelapkan kedua anak perempuan kami. Malam semakin larut, aku masih memilih pakaian yang hendak dijual esok hari.

Malam boleh dingin, matahari boleh tertidur namun di ruangan ini, bunga itu masih mekar memberi keharuman dan kedamaian dalam hatiku. Lampu ini begitu terang, namun tak seterang pancaran cintaku padamu. Suamiku mulai menggoda, dia memang perayu handal, tidak lama aku sudah terbuai dan kami melakukan ritual-ritual cinta untuk memperoleh keturunan berikutnya. Anak laki-laki, ya itulah harapan kami.

 Bersambung…

Iklan