Berubah Menuju Kebaikan

Jaman saya masih kecil, pola mendidik anak pastilah berbeda dengan situasi jaman sekarang. Jika dulu bentakan bahkan pukulan kita anggap hal yang biasa, namun sekarang bukan jamannya lagi. Hal ini seiring dengan perubahan yang ada, lalu apa jadinya jika terjadi di kehidupan sekarang ini? Apakah itu sebagai bagian dari bentuk arogansi?.

Masih layakkah dia disebut bapak? Jika kesehariannya selalu meningkatkan wibawa di depan istri dan anaknya dengan membentak, mencaci bahkan menggunakan fisik? Tidakkah perbuatannya suatu saat akan ditiru oleh si anak dan diterapkan kepada teman dan lingkungannya?. Saya kira masih banyak cara untuk meningkatkan wibawa dengan cara yang lebih bijak.

“Yah memang karakternya begitu, mau bagaimana lagi.” Itulah kalimat yang saya dapatkan dari hasil ngerumpi. Saya jadi berpikir, dia itu manusia dan mempunyai latar belakang pendidikan modern, sudah pasti bisa berubah. Tergantung ia memiliki seberapa banyak keyakinan dan kemauan untuk berubah. Jika keyakinan dan kemauannya cukup besar, rasanya tidak ada yang tidak bisa.

Setelah dia memiliki keyakinan dan kemauan, mau atau tidak dia berjuang untuk perubahan itu sendiri. Banyak yang mengatakan akan berubah, namun dia tidak pernah berjuang untuk berubah. Dan banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi dirinya malas untuk berubah.

Saya yakin kita tidak se-bego si Banteng yang begitu benci dan marah melihat warna merah, entah itu kain atau beton yang di cat merah. Kita mempunyai lebel “kemanusiaan” untuk berjuang demi perubahan yang lebih baik, dan menggunakannya secara bijak.

Iklan