Bersatu Untuk Indonesia

Melangkah tanpa alas, itu hal yang biasa bagiku. Meski demikian aku bangga sebagai anakmu. Segelintir orang mengucapkan Pancasila di ujung lidah, namun masih banyak yang meletakkan Pancasila di dadanya.

Dalam perjuanganku melawan penjajah di negeri tercinta ini, perisaimu masih menggantung di tanganku dan kekuatan yang tersirat menyatu dalam panca inderaku.

Sinar Bintang perlambang Ketuhanan Yang Maha Esa masih tetap bersudut lima, takkan pernah menjadi bundar. Rantai perlambang kemanusiaan akan terus menyambung antara 9 mata rantai bulat sebagai unsur perempuan dan 8 mata rantai persegi sebagai unsur laki-laki , mewujudkan generasi muda yang turun temurun.

Pohon beringin perlambang persatuan takkan pernah berubah menjadi pohon perdu. Kepala banteng yang melambangkan kerakyatan seharusnya tetap merambah dalam segala kebijakan. Padi dan kapas sebagai lambang keadilan sosial hendaknya menyatukan rakyat dan pengusaha.

Beribu pulau yang berjajar terikat sabuk yang berBhineka Tunggal Ika. Sang Dwi warna Merah Putih masih terus berkibar di sarangku. Aku seekor burung pipit namun aku mengangkasa dengan Burung Garuda. Tak seperti para penjilat yang berparuh seperti garuda namun berkumis dan bermata tikus, terlelap dalam lorong penuh aroma kepalsuan.

Kami para burung pipit akan terus bersatu membentuk garuda. Dengan kakiku yang mungil kukibarkan Sang Merah Putih di Bumi Persada Indonesia tercinta, Dirgahayu Indonesia ke – 66, kami anak bangsa siap mengawal, mengisi dan  mempertahankanmu , MERDEKA, MERDEKA,MERDEKA !!!

Iklan