Bengkel Pak Umar

Matahari bersinar dengan gagahnya. Lalu lintas di jalan lumayan padat, asap kendaraan campur aduk dengan debu jalanan. Sementara di sebuah bengkel, saya hanya bisa duduk dan membolak-balik koran harian, menunggu pak Umar yang sedang menambal ban motor saya.

Beberapa menit kemudian, seorang bapak datang dengan menuntun sepeda motornya. Ternyata nasib saya dengan dia tidak jauh beda. Si bapak memanggil pak Umar, “Pak, tolong tambal ban sepeda motor saya”. Dengan senyum pak Umar menghampiri dan mengambil alih sepeda motor tersebut.

Proses pembongkaran ban dalampun dimulai. Pak Umar masih dengan teliti memperhatikan ban dalam sepeda motor bapak tersebut. Tiba-tiba si bapak berkata, “Udahlah pak, yang bocor kan sudah ketahuan, kok dibolak balik terus bannya, kalau begini, kapan selesainya!”

Saya ini mau ke rumah sakit, ada pasien melahirkan yang harus saya tangani, kalau sampai terlambat bisa gawat, tambah si bapak. Ternyata si bapak adalah seorang tenaga medis di sebuah rumah sakit, mungkin karena ia memiliki keahlian khusus sehingga kehadirannya begitu dibutuhkan.

Pak Umar memandang si bapak, iapun berkata, “Pak bukan saya memperlambat tugas bapak, namun saya memperhatikan ban dalam motor bapak”. Tambalannya ada tiga, semuanya hanya di tambal biasa, bukan di press. Saya hanya ingin memberikan tambalan yang terbaik buat ban dalam sepeda motor bapak, sehingga bapak bisa melaksanakan tugas dengan baik, untuk itu saya harus lebih teliti.

Kalau saya menambalnya dengan asal-asalan, seandainya bocor di tengah jalan, sama artinya bapak tidak sampai di rumah sakit dengan cepat. Tugas bapak dan saya sama-sama penting, jika bapak memang harus berangkat segera, motornya ditinggal saja dulu di sini dan silakan bapak naik angkot.

Saya yang dari tadi membaca koran, hanya koran di tangan namun pikiran ada pada perdebatan pak Umar dan si bapak. Di sana saya mendapat pelajaran, setiap pekerjaan membawa misinya sendiri dan sama pentingnya, jangan pernah meremehkan pekerjaan orang lain 🙂

Iklan