Poetry Tak Lagi Benci Hujan

Hari Minggu pukul 06:00 Poetry terbangun, dengan penuh semangat, dia membuka jendela kamar. Terlihat kekecewaan di wajahnya. Hujan rintik-rintik telah menghapus harapannya untuk bisa bersepeda di pagi hari. Sambil menggerutu dia berkata, “Aku benci hujan ini, kamu telah merusak rencanaku.”

Sementara ayah memandang Poetry dengan tersenyum sambil berkata, “Kamu kenapa Poetry?” Masih kesal Poetry menjawab, “Aku benci hujan ayah, karena Poerty tidak bisa bersepeda.” Ayah masih tetap tersenyum, “Ya sudah, nanti sore kita ke rumah nenek, di sana kamu bisa melihat sawah, kerbau dan bermain bersama anak-anak di desa.”

Poetry mulai tersenyum, ada sedikit keceriaan di wajahnya. Sore hari sekira pukul 16:00, dengan dibonceng ayahnya, Poetry pergi ke rumah nenek yang tinggal di desa. Sepanjang perjalanan memasuki desa, wajah Poetry sudah senang melihat pemandangan yang ada. Sawah-sawah menghijau, anak-anak bermain dengan ceria.

Begitu tiba di rumah nenek, setelah salaman dan mencium tangan nenek, Poetry langsung berlari ke arah gerombolan anak-anak desa yang sedang bermain. Keramahan anak-anak desa begitu cepat menarik hati Poetry, sehingga dengan mudah ia bisa beradaptasi.

Sementara asyik bermain, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Mereka berlari berhamburan mencari tempat berteduh. Sebuah pos kamling yang sedang kosong menjadi sasaran tempat mereka berteduh. Mereka duduk sambil tertawa, namun tidak demikian dengan Poetry, wajahnya muram dan sedih.

Seorang anak bernama Shinta mulai bertanya, “Kamu kenapa sedih Poetry?” Poetry mendesah dan berkata, “Lihat hujan turun begitu deras, kita semua tidak bisa bermain lagi.” Shinta berkata, “Poetry, kalau hujan tidak turun, kami bisa kelaparan, karena tanaman di kebun ayah kami akan mati kekeringan.”

“Ia Poetry, kalau hujan tidak turun, sawah-sawah akan kering semua, dan ayah kami bisa gagal panen,” Ratna ikut menambahkan.

“Meskipun hujan turun, kita masih bisa bermain di sini kok, mendingan kita main tebak-tebakan yuk?” ajak seorang anak yang paling kecil bernama Amara.

Poetry terdiam, selama ini dia begitu membenci hujan karena tidak bisa bermain di halaman. Ternyata hujan juga sangat diharapkan oleh sahabatnya di desa. Kenapa aku selalu berkutat dengan ego? Mulai saat ini aku tidak akan membenci hujan lagi, guman Poetry.

Cerita ini saya hadiahkan untuk sahabat yang telah membuat serta ikut ambil bagian dalam kontes, dengan kata kunci “Hujan”, yang diselenggarakan oleh Putri Amirillis dan Bang Aswi.

Iklan