Di Sisi Malam

Malam itu, kabut tersibak di antara desiran angin. Merayap menyusuri pucuk dedaunan, mengetuk jendela sebuah rumah di bibir desa. Tidak lama jendela terbuka dan pemuda itu memandang langit yang dihiasi bintang dalam buaian lembut sang rembulan.

Kedua tangannya memegang sebuah foto, sambil sesekali dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tatapan matanya menerawang jauh seakan ingin menembus cakrawala malam. Kini pandangannya beralih kepada foto yang ia pegang. Dengan lembut pemuda itu menyentuh foto dengan jarinya. Nafasnya terengah, gumpalan es telah memenuhi rongga dadanya, hingga tak ada kata yang terucap selain sebuah tatapan.

Pemuda itu terhempas, duduk terkulai di kursi mungil. Kursi yang selalu menjadi teman saat ia mulai bercerita dengan hati. Dengan foto di tangan kiri, pemuda itu mengambil secarik kertas dan sebuah pena. Perlahan pemuda itu mulai menyusun kata dalam deretan syair-syair sunyi.

Engkau yang ada di sana, masih ingatkah waktu itu? Waktu dimana kita mulai berjalan dalam babak baru. Begitu banyak cerita yang telah kita tuliskan, begitu banyak kisah yang kita mainkan, hingga kita bisa mengerti satu sama lainnya dalam permaian nada kehidupan.

Engkau yang ada di sana, pernahkah terbersit di benakmu untuk mengunjungi rumah itu? Rumah yang kita bangun dengan cinta dan kasih sayang, rumah yang kita hiasi dengan canda, tawa dan air mata, rumah dimana kita mengumpulkan serpihan-serpihan cinta, hingga kita mampu berdiri dan berjalan lagi.

Engkau yang ada di sana, maafkan aku yang tak mampu menahan hembusan angin ini, semoga ini bukan sebuah kekeliruan. Semua ini akan aku jadikan sebagai doa, hingga engkau tersenyum kembali.

Pemuda itu menutup lembaran yang ada, kembali ia menengok keluar jendela, memandang bulan yang masih menghiasi malam dengan sentuhan lembut sinarnya. Mungkin sebentar lagi sinar rembulan akan menghilang, namun sesuatu yang hilang akan kembali dengan caranya sendiri dan tidak pernah kita duga sebelumnya.

Iklan

13 pemikiran pada “Di Sisi Malam

  1. Rumah itu kini tak bertuan,,
    Dan ditinggalkan,,
    Karena kita terlalu ego,,,
    Kalau sudah begini siapa yang salah
    Aku,, Kamu,, atau Mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s