Pancasila Yang Terlupakan

Sebelum Pancasila terlahir, di negeri ini ada dua kubu yang saling berseteru, yaitu kubu sosialisme dan kapitalisme. Dengan kecerdasan dan kebijakan yang dimiliki oleh seorang Bung Karno, akhirnya Pancasila terlahirkan. Pancasila bukan saja menjadi dasar negara. Pancasila juga sebagai pandangan hidup bangsa. Setiap isi dari sila yang ada, terkandung nilai-nilai peradaban negeri yang kita cintai ini. Lalu bagaimana dengan sekarang?, apakah Pancasila hanya sebagai simbul saja?

Kita teringat kepada sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sikap hormat menghormati antara pemeluk agama dan kepercayaan, membina kerukunan hidup antar umat beragama dan kebebasan menjalankan ibadah. Namun apa yang terjadi sekarang? Begitu banyak kekerasan yang dilakukan mengatasnamakan agama. Begitu marak paham yang disebarkan untuk membenarkan satu paham, pada akhirnya kita berseteru dengan saudara sendiri.

Lalu…kita melangkah kepada sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Mengakui persamaan harkat dan martabat sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa. Tidak membedakan suku, agama, ras dan antar golongan, tidak semena-mena terhadap orang lain. Namun mengapa kita masih mempunyai pemikiran berkotak-kotak. Dengan mudah kita menghina maupun mencaci orang, begitu gampang kita berlaku kasar kepada mereka yang lemah.

Kemudian kita memikirkan sila Persatuan Indonesia. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa, mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia, mengembangkan persatuan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Mengapa saat bendera Merah Putih dikibarkan kita tutup mata, mengapa saat upacara bendera kita masih malas-malasan dan mengapa lagu-lagu perjuangan sangat jarang kita dendangkan?

Kini kita berada pada sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan. Berpuluh tahun kita berjuang untuk sebuah demokrasi. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan bersama, dengan etikad baik menerima dan melaksanakan hasil musyawarah serta tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Di dalam ruang sidang, Pancasila terpasang dengan penuh wibawa. Lalu kita sebagai pelaku sidang seakan tidak perduli. Tertidur waktu sidang, menonton film porno, bahkan saling lempar kursi dan menghujat satu sama lainnya. Kekerasan sering kali melatar belakangi aksi demo, bahkan pelaku demo lebih senang merusak fasilitas umum ketimbang merawatnya, apakah itu yang dinamakan akal sehat dan hati nurani yang luhur?

Lalu…lalu…kita merenung pada sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Tanpa disadari kita kembali kepada paham kapitalisme. Tidak pernah kenal siapa yang ada di sebelah rumah kita, tidak pernah perduli dengan apa yang ia lakukan dan kerjakan, tembok pagar antar warga seperti benteng penjara, aku adalah aku dan kamu adalah kamu. Sikap dan suasana kekeluargaaan serta kegotong-royongan hampir tidak terdengar lagi. Hak melebihi kewajiban, keinginanpun melebihi kebutuhan.

Pancasila, betapa rendah diri ini membiarkan engkau dalam keadaan sakit karena ulahku sendiri.

Iklan